menulis kembali (3): menulis

October 11, 2016 at 2:26 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment
th
photo from serc.carleton.edu

 

Tulisan ini (gw harap) adalah seri terakhir dari rangkaian tulisan gw di blog ini dengan judul “menulis kembali”. Karena dari judulnya saja sudah terlihat serial ini berbau narsis seolah ada saja yang membaca lalu menanti tulisan gw selain gw sendiri maka mari kita akhiri saja dan berharap ujung trilogi ini bisa memutus rantai penyakit narsis yang berlebih serta kemalasan menulis yang akut.

Akhir-akhir ini gw membaca kembali beberapa tulisan gw yang telah lampau. Gw lalu menyadari gw adalah penulis blog/notes/apapun itu namanya yang terbawa zaman sekaligus tergerus waktu? Apa artinya?

Sebagian besar tulisan gw kurang relevan di zaman lain. Mereka terjebak pada masanya. Membaca satu tulisan gw pada suatu masa yang berbeda jadi membingungkan juga kurang makna. Ambil contoh tulisan-tulisan gw di rentang tahun 2008-2012 (tercerai berai di blog, sosial media, buku harian, agenda rapat dsb). Sudah mah bahasanya alay, tata bahasa berantakan, gaya penceritaan berulang-ulang, dan temanya tak bisa dibawa ke masa kini. Di rentang waktu yang lebih baru, kualitas tulisan gw tak jadi lebih spesial. Kuantitas juga menurun dan gw tak begitu cakap menjawab tantangan zaman.

Akan tetapi, tak memungkiri satu dua tulisan yang terjebak di dimensi lalu itu memang istimewa adanya. Ini sungguh bukan sombong maksudnya, justru sedih karena betapa gw yang hidup di masa ini tidak bisa menyaingi gw di tahun-tahun ke belakang dan betapa pemikiran gw zaman sekarang tak bisa lebih maju dari masa lalu.

Maka bertambahlah status gw menjadi penulis narsis tak multizaman yang senang terjebak nostalgia.

Lalu mengapa gw tetap menulis kembali? Gw tak tahu persis. Tapi setiap gw melewati jalanan kota yang sesak, berdiri di depan laut yang ombaknya menggulung-gulung, membaca twit politik, menatap gedung tinggi yang sendu, menonton gosip, mengenal orang-orang hebat, dan hal-hal lain semacam itu, gw tahu gw ingin menulis, bahkan sekadar mengulang gaya bercerita yang sama dalam cerita-cerita yang tak akan diingat lama.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: