menulis kembali (2) : Angkot

August 12, 2016 at 11:13 am | Posted in cumi-cumi, Uncategorized | Leave a comment

Tak ada yang lebih menguji batas emosi selain berada di angkot yang ndut-ndutan maju pelan-pelan untuk menjebak satu dua calon penumpang yang beranggapan angkot bakal langsung cuss jalan. Padahal, ketika penumpangnya sudah naik angkotnya mundur lagi. Begitu seterusnya. PHP luar biasa. Kapan gw sampe rumahnya, Bang?!!!

Tak bisa dipungkiri sekarang ini memang era sulit untuk moda transportasi umum macam angkot, mikrolet, metromini, kopaja, dan teman-temannya. Belasan tahun lalu di kampung orang tua gw punya usaha angkot sekitar dua atau tiga. Saat itu  belum banyak kepala keluarga yang punya mobil atau motor, tetapi bisnis angkot sama sekali bukan bisnis yang banjir untung. Bayangkan sekarang yang jumlah motornya tumbuh sekitar 10 persen per tahun, lebih-lebih di kota besar macam Jakarta.

Faktanya memang ini sedang zaman alat transportasi berbasis order online yang punya pangsa pasar besar, yakni manusia-manusia masa kini yang sering tergesa dan ingin efisiensi. Sekarang pula telah datang suatu masa, di mana kita berinisiatif memberi tip abang ojek online yang mengantarkan dari rumah ke kantor dengan tarif lima belas ribu, tetapi cuek berat dengan supir angkot yang mengangkut kita dari Senen sampai Kampung Melayu pada jam sepi tanpa satu pun penumpang lain dengan tarif lima ribu saja. Kita relakan kembalian enam ribu diambil supir taksi, tetapi kembalian seribu rupiah lecek dari abang angkot ditungguin sambil pasang tampang jutek.

Tapi, tapi, tapi…. Tapi kan angkot nyebelin. Suka ngetem. Suka serobot-serobot. Suka galak. Suka berhenti sembarangan. Suka serampangan. Kalau kita protes kita yang dimaki-maki dan diusir layaknya sinetron. Nyebelin level dewa dewa Yunani.

Hanya saja, terkait hukum kausalitas, entah mana yang benar. Apakah masyarakat semakin malas naik angkot karena angkot makin nyebelin? Atau angkot makin nyebelin karena masyarakat semakin malas naik angkot?

Yang pasti, telah muncul suara suara di dalam kepala, yang kedua mata padanya memandang muka-muka penumpang yang lelah dan supir angkot yang penat, di dalam angkot yang terjebak di jalan sesak, pada suatu senja yang kusut.

Yang membuat gw menulis kembali: Jakarta, 12 Agustus 2016.

 

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: