intellection

October 4, 2013 at 12:15 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Aaron Swartz, muda dan jenius. Awal tahun ini, ia mengakhiri hidupnya sendiri setelah pemerintah dengan agresif menyebutnya sebagai penjahat dan lembaga peradilan mengancamnya dengan tuntutan 35 tahun penjara. Ia terjerat hukum yang rumit setelah memanfaatkan kelemahan dalam sistem arsip jurnal akademis JSTOR milik Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan menghubungkan laptopnya ke jaringan milik MIT, mengunduh sekitar 4,8 juta dokumen digital milik JSTOR, kemudian mencoba membagikannya secara gratis di internet.

Sementara gw (yang juga muda dan jenius siiihh), calon emak-emak dari negara dunia ketiga, mengap-mengap saat membuat skripsi, mampu mengakses satu atau dua jurnal JSTOR hanya karena beruntung bersekolah di kampus yang berlangganan akses kepada jurnal akademis yang mahal-mahal. Namun, bagaimana jika tidak… Aaron Swartz berkata dalam artikel ‘Manifesto’ yang ditulisnya, “Informasi adalah kekuasaan. Tapi seperti juga kekuasaan, ada orang yang ingin menyimpannya hanya untuk diri mereka sendiri.”

Beberapa hari lalu, seorang bapak-bapak jadi bahan bulan-bulanan di internet karena tulisan/fatwa yang ia buat (??) Kurang lebih begini bunyi penggalan fatwanya: “Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu. Haram menganggap ilmu sebagai milik pribadi dan meminta kompensasi darinya. Tapi halal menjual atau meminta kompensasi atas produk hasil intelektual (buku dan CD misalnya). Artinya yang dijual bukan ilmu, tapi produknya.”.

Alhasil, bapak-bapak ini sukses dibully dan dianggap dongo.

Gw yang masih suka membeli MP3 di sisi jalan, memfotocopy buku teks, menonton film-film baru hasil unduhan cuma-cuma, menggunakan software bajakan (walau juga kadang beli yang asli demi gengsi :P), tak berani ikut-ikut komentar lebih jauh tentang fatwa si bapak-bapak (yang dianggap dongo oleh sebagian orang) ini. Apalah yang bisa kita lakukan ketika hasil pemikiran menjadi semakin mahal selain saling berbagi satu sama lain apa yang kita punya secara cuma-cuma demi mencegah kita tidak bertambah bodoh (dan dongo).

Dan ngomong-ngomong dongo, sesungguhnya banyak yang lebih dongo. Dan hukuman 35 tahun bagi Aaron Swartz, sungguh masih banyak yang lebih layak mendapatkannya. Contoh saja, di suatu negeri Hakim lembaga suci berbuat hina. Kita bisa apa.    

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: