sebuah nama sebuah cerita : peterpan

October 20, 2008 at 2:53 pm | Posted in cumi-cumi | 1 Comment

Salahkan gw yang terlalu sentimentil, melankolis, romantis, atau apapun itu. Yang jelas, setelah menonton acara konser tunggal terakhir peterpan di televisi malam kemarin, sikap sentimentil gw bertambah-tambah. Ok, mungkin konser yang dimaksud sama sekali bukan seperti konser tunggal dimana ia menjadi sangat ekslusif, digelar minimal di tennis indoor senayan dengan tiket sejutaan, dan tidak disiarkan televisi secara live. Konser itu hanya sebuah konser biasa untuk televisi dengan durasi iklan yang lumayan banyak dan tidak lebih dari usaha mayor label untuk lebih mendulang banyak uang dari sebuah band bernama peterpan lewat cerita perpisahan yang (terlalu)didramatisir. Dan hal tersebut mejadi sangat mencolok dengan kehadiran bintang tamu di konser itu yang tiada lain adalah frontman-frontman band yang ada di bawah naungan perusahaan rekaman yang sama. Oh, itulah industri.

Namun, jika salah satu tujuan mereka membuat konser itu adalah untuk mengaduk-ngaduk perasaan atau membawa gw ke masa lalu, mereka berhasil.

Enam atau tujuh tahun lalu gw menonton peterpan secara live untuk pertama kali di kampung halaman gw. Saat itu mereka hanya sebuah band yang single-nya terabung dalam sebuah album kompilasi. Dalam konser enam tujuh tahun lalu itu hanya ada “Mimpi yang Sempurna”(tentu kita tidak akan melupakan “Mimpi yang Sempurna”), selebihnya adalah lagu-lagu band lain. Gw masih ingat, Ariel melepas kausnya dan menyanyikan lagu Incubus. Aaaah, itu masa lalu.

Kemudian dalam hitungan setahun dua tahun, peterpan berhasil mewujudkan mimpi menjadi band yang sempurna. Penjualan album yang fantastis. Konser yang disesaki penggemar. Skandal cinta sang vokalis. Dan kontroversi. Lengkap. Sementara mungkin kita bisa saja muak dengan “Ada Apa Denganmu?” yang terlalu sering diputar, dinyanyikan dalam berbagai versi, dari dangdut hingga campur sari, atau “Bintang di Surga” yang menemani perjalanan di bis-bis atau angkutan kota sampai bosan.

Yap. Ada kalanya mereka memuakan. Walau begitu, sulit untuk memungkiri bahwa peterpan telah mencemari telinga gw selama tujuh tahun belakangan ini. Peterpan menemani perjalanan hidup gw dan hidup siapa saja yang senang menonton tv atau mendengarkan radio. Sama pula dengan sulitnya untuk memungkiri bahwa mungkin saja sekarang ini kita adalah pemain band death metal paling rock atau musisi jazz paling idealis, tapi tujuh tahun lalu saat masih berseragam putih-merah gonjrengan gitar pertama kita adalah susunan kord sederhana lagu “Mimpi yang Sempurna”. Jreeeeng jreeeeeng….

Begitulah.

Yang jelas, setelah nonton konser tunggal peterpan yang konon terakhir itu, gw agak sulit menghapus jejak wajah ariel (yang setelah gw pikir-pikir eh ganteng juga)…

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. huwaa,, gestii,, iyaa bangeet.!

    tapi kok gw smp yaa pas peterpan mulai kedengeran..
    tuanya akuu.. huhu..
    dan yaa,, kord gitar yang pertama kali gw kuasai adalah “mimpi yang sempurna”,, ahaha..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: