pizza

October 16, 2008 at 1:47 pm | Posted in cumi-cumi | Leave a comment

Seminggu yang lalu gw diajak makan pizza bareng oleh sepasang kekasih. Pergilah gw dengan sepasang kekasih berkomposisi unik itu, yang mana cowonya gendut dan ceweknya langsing semampai, ke sebuah restoran waralaba yang menjual pizza, you know what lah yaaa. Kami memilih sebuah tempat duduk di samping jendela, dimana kamu bisa melihat barisan motor delivery service ataupun para wanita setengah baya yang menenteng kantong belanjaan. Pelayan wanita dengan dandanan menor dan nada suara (sok) ramah menaruh dua buah daftar menu di atas meja lalu berlalu pergi. Kami pun memilih-milih(yang sebenarnya tidak perlu karena dari awal kita telah menetapkan untuk membeli paket paling hemat yang bahkan tidak ditulis di daftar menu yang ada di depan kami).

Di atas meja, selain dua botol saus, tiga buah piring(plus sendok garpu), dan dua buah daftar menu, tersimpan juga satu buah kertas lux yang dilipat menjadi prisma, seperti kalender, dengan foto seorang anak kecil, katakanlah balita, yang lusuh dan terlihat…hmm lapar. Alih-alih membaca daftar menu, perhatian kita teralihkan ke foto balita itu. Di bawah foto itu ada tulisan(kira-kira seperti ini): “2000 rupiah per hari akan menyelamatkan tiap balita dari bahaya kelaparan”. Kita cukup tersentuh. Kenapa? karena dua ribu sama sekali tidak seberapa dengan berapa rupiah yang kita habiskan per harinya, untuk makan, jajan, jalan-jalan, foya-foya, dan istilah-istilah yang kurang lebih sama. Sementara jutaan bayi di negeri ini terancam mati kelaparan atau kurang gizi hanya karena tidak memiliki dua ribu rupiah tiap harinya.

Ironi.

Lalu datanglah pesanan kami, paket berempat yang terdiri dari empat pan kecil pizza, satu piring roti kering(brucchetta atau apalah itu), dan empat gelas soda cola. Ironi. Jutaan bayi kelaparan dan kami bertiga membeli paket makan untuk berempat. Salahkanlah manager restoran itu yang tidak membuat paket bertiga, seakan-akan membuat paket bertiga merugikan atau apa. Yang jelas, bagi gw saat itu empat pan(atau enam belas potong pizza) sudah lebih dari akan sangat mengenyangkan. Dan benar saja, setelah tiap orang memakan empat potong pizza(yang berarti masih ada tersisa empat potong lagi) mata gw berkunang-kunang tidak sanggup meneruskan makan. Namun, setiap kali kami tergoda untuk menyisakan makanan dan beranjak pergi, foto si bayi di atas meja menahan kami. Jutaan bayi kelaparan di luar sana sehingga bukanlah sesuatu yang pantas bagi kita yang berkecukupan untuk menyisakan makanan. Alhasil, dengan semangat yang masih tersisa gw mengunyah potongan pizza terakhir.

Malamnya, gw diare karena terlalu banyak makan pizza.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: