dunia dalam genggaman

September 4, 2008 at 3:04 pm | Posted in tongkol | Leave a comment

Dalam beberapa hal, gw suka handphone. Kadang-kadang handphone dapat diandalkan sebagai sumber beberapa kebahagiaan kecil. Handphone suka membawa kabar baik, contoh: sms jarkom kelas tidak jadi kuliah. Handphone membuka peluang agar silaturahmi dengan teman dan keluarga tetap terjalin walau terhalang jarak yang jauh, contoh: menelpon orang tua di kampung minta kiriman. Handphone juga membuat gw tersenyum spontan saat membaca sms-sms yang menyenangkan, contoh: sms dari kecengan. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, mengingat perkembangan zaman menuju era globalisasi semakin menuntut keefektivitasan dan mobilitas yang tinggi, handphone telah berperan sebagai media komunikasi yang bisa memperpendek jarak serta mempersingkat waktu…membuat hidup yang sulit sedikit jadi lebih mudah.

Kini, fungsi handphone semakin berkembang. Tidak hanya bisa menelepon dan sms, handphone juga bisa melakukan segalanya sebab segala fasilitas aneh-aneh ditambahkan ke dalamnya. Ada kamera, ada music player, ada internet, ada office, ada semuanya. Bangun tidur dibangunin alarm handphone(dilanjutkan dengan morning call dari yayang), ngirim e-mail ke rekanan pakai handphone, waktu macet liat rute jalan pakai handphone, bosan di perjalanan cukup dengarkan musik dari handphone, foto-foto waktu naik gunung pakai handphone(ngapain bawa DSLR, berat, toh kamera handphone udah canggih), presentasi perusahaan pakai handphone, musisi bikin lagu pakai handphone, anak lahir diabadikan pakai kamera handphone, browsing di dunia maya sepuas-puasnya pakai GPRS di handphone. Pokoknya semua serba handphone(jangan-jangan lama-lama masak ma nyuci juga pake handphone?!)……

Fenomena yang terlihat sekarang, dimana-mana orang menjinjing handphone, di telinga orang-orang tertempel headset, jempol orang-orang nempel terus di keypad. Semuanya, dari tukang es sampai anggota DPR, dari seniman sampai tukang batu. Apalagi sekarang, tarif telepon dan sms telah jauh lebih murah daripada dua tahun lalu disaat dunia seluler hanya dikuasai oleh tiga operator besar. Konsumen dapat memilih sebebas-bebasnya operator mana yang paling berkenan di hati(yang berarti iklannya paling sukses). Kita bisa ngobrol sampai kuping panas bahkan hingga dua puluh lima jam sehari(sori, gw lebay). Yang jelas, ‘budaya’ handphone ini memang pas banget buat orang Indonesia, yang sebagian besar masyarakatnya hobi ‘bercerita’, bercengkrama, ramah-ramah, punya sisi romantisme yang tinggi, dan agak lebay(kayak gw…)

Namun, ada kalanya benda bernama handphone itu bisa jadi sumber masalah juga. Konon, sinyal yang dipancarkan handphone lebih sering membawa kecemasan dan ketidaktenteraman daripada membawa ketenangan. Banyak juga kesalahpahaman yang ditimbulkan handphone. Belum lagi kalau sudah ketagihan, pisah dari handphone beberapa menit saja bisa kalang kabut. Sms gak dibalas sekali saja, ngamuk-ngamuk. Telepon gak diangkat paniknya setengah mati. Kalau seperti itu caranya, handphone jadi bikin orang sering makan hati lama-lama sakit jantung.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: