The Known World…

September 1, 2008 at 2:54 pm | Posted in jambal | 1 Comment

Jika tinggal di daerah kos-kosan sekitar sebuah kampus, rasa-rasanya seperti tinggal di sebuah miniatur wilayah geografis yang lebih besar. Dari orang Batak sampai orang Bugis ada. Dari toko pulsa sampai laundry baju ada. Dari gado-gado Betawi sampai nasi Padang ada. Komplit.

Kini, setelah tinggal selama hampir dua tahun, mau tidak mau daerah kos-kosan yang gw tinggali sekarang adalah ‘dunia’ gw. Inilah dunia yang gw kenal, the known world… Pelan-pelan gw mulai mengenali setiap sudutnya, gang-gang sempit yang becek berlubang, tembok-tembok yang kusam, selokan yang kecokelatan, orang-orang yang ke masjid saat adzan berkumandang, dan belokan-belokan jalan, dan udaranya, dan semburat matahari senja yang menyelinap di balik daun-daun sebuah pohon kurus.

Begitu pula orang-orangnya. Sedikit demi sedikit gw mengenali mereka. Tetangga-tetangga yang hidup berdampingan dengan beragam karakternya. Dan kami pun bersimbiosis. Beberapa diantaranya gw tahu namanya, lebih banyak yang tidak. Kemudian munculah panggilan-panggilan baru untuk mereka. Sebagian tercipta dari sejak lama, menjadi warisan bagi setiap generasi. Sebagian lagi gw dan teman-teman ciptakan sendiri dengan beberapa kisah asal muasal yang tidak terlalu relevan sebenarnya.

Berikut ini adalah beberapa nama panggilan tersebut :

CEU IKIN

Salah satu nama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi adalah ceu ikin. Ceu ikin adalah perempuan Sunda pemilik sebuah warteg alias warung makan di dekat kosan gw. Di dalam warung tersebut sebenarnya ada beberapa perempuan dewasa, entah yang mana yang sebenarnya bernama Ikin. Yang jelas, semua perempuan di situ kami panggil Ceu Ikin. Yang terkenal dari Ceu Ikin adalah desas-desus kalau mereka suka galak sama anak perempuan, tapi ramah pada anak lelaki, terlebih-lebih pada yang tampan. Setiap ada anak lelaki tampan lewat depan warungnya pasti langsung disapa : “Randiiiii, kok gak mampir?” Hehehe

MAS YOI

“Mas, fotokopi yang ini dua ya!” “Yoi!” “Mas, beli pulpen” “Yoi” “Mas, nanti saya ambil ya” “Yoi” “Mas, tolong jilidin ini dong” “Yoi”…. Alhasil, gw dan teman-teman kos pun memanggil tukang fotokopian yang terletak di samping warung Ceu Ikin ini dengan sebutan Mas Yoi (bukan Doy, Doy mah judul lagu Kangen Band)

MAS MILIMETER BLOK

Nah, mas milimeter blok ini juga tukang fotokopi. Dia anak buahnya Mas Yoi. Panggilan ini muncul gara-gara suatu kejadian menggelikan di awal-awal gw tinggal di sana. Suatu malam, teman gw minta diantar ke fotokopian. Teman gw masuk agak ke dalam dan menemui mas penjaga fotokopian sementara gw menunggu sambil melihat-lihat etalase yang menghadap ke arah jalan. Tiba-tiba muncul seorang mahasiswa yang tiba-tiba berkata, “Mbak, ada milimeter block?” Olalaaa, gw disangka tukang fotokopi. Anehnya, walau ngeliat gw dan teman gw ketawa ngakak, mahasiswa itu tetap tidak sadar ia salah orang. Ia baru sadar saat akhirnya mas penjaga fotokopi yang asli menghampiri dan memberikannya milimeter block. Sejak saat itu, Mas penjaga fotokopi yang itu diberi panggilan Mas Milimeter Blok.

AKANG BAIK HATI

Teman gw yang membuat panggilan ini. Akang baik hati adalah pemilik warung di seberang gang kosan gw. Orangnya memang baik hati, murah senyum, dan ramah. Andaikan setiap pemilik warung seramah itu,huhuhu. Susah menemukan orang baik di zaman sekarang.

UDA

Dari namanya saja kita tahu kalau Uda ini orang Padang. Ternyata, dari sejak zaman dosen-dosen gw kuliah, Uda sudah dikenal sebagai tukang fotokopi di kalangan mahasiswa. Sekarang, siapa yang tidak tahu Uda? Mau pesan fotokopi sebuah buku(ups), tinggal hubungi Uda yang letak fotokopiannya dan fotokopian Mas Yoi hanya dipisahkan oleh sebuah gang.

IBU SOTO

He3…mengapa dipanggil Ibu Soto? simpel saja, karena ibu ini berjualan soto.

IBU GENIT

Entah mengapa ibu tukang gado-gado ini dipanggil bu genit. Yang jelas, ibu ini memang ramah sama siapa saja. Kalau gw atau teman gw lewat pasti disapa, “Mau kemana Cah Ayu?” Di matanya, para perempuan ayu semua. Bagus kalau begitu, hehehe. Mungkin begitu pula dengan para lelaki di matanya, ganteng semua.

BAPAK GALAK/OPIK

Gara-gara pernah dibentak waktu salah ngeprint di rental komputernya, gw tanpa sadar memberi label pada pemilik rental komputer itu : Bapak Galak. Di samping galak, bapak tersebut mirip dengan penyanyi dan pencipta lagu, Opick. Oleh karena itu, jika galaknya sedang tidak kambuh gw lebih memilih memanggilnya Opik.

Dan masih banyak tetangga-tetangga yang lain yang mengisi komunitas di sekitar gw dengan keriuhan dan kehidupan. Tanpa sadar kami saling berinteraksi dan menciptakan ketergantungan. Inilah dunia yang gw kenal, dunia yang riuh, dunia yang ramah, dunia yang setidaknya menciptakan area nyaman gw dari keterasingan.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ada juga “hutan belantara” teh,tempat berkerumun manusia2 semi korban kebuasan peradaban yang mulai riuh dengan PS console-nya..
    hehe potomu yang pake capil itu dimana ya?lupa aku teh..n,n


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: