setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, setengah hamburger

June 22, 2008 at 12:47 pm | Posted in tongkol | 2 Comments

Dua malam yang lalu, gw datang ke ke sebuah hotel berbintang di pusat Jakarta. Gw duduk di lobi, melihat ke sekeliling, dan seketika tersedot ke dalam sebuah dimensi lain yang terang benderang. Orang-orang lalu lalang dengan langkah bergegas, seperti kilatan-kilatan lampu yang memantul di gelas-gelas kaca. Sebagian yang lain duduk di sofa, berbicara dengan sesamanya tentang segala hal, sebagian besar tentang uang. Orang-orang itu datang dan pergi. Hingga larut tak berhenti.

Inilah dimensi yang membuat penasaran. Mengingatkan terhadap pengalaman pertama di masa kecil saat mencoba kerak telor di sebuah pasar malam yang menghasilkan rasa memikat dan tak terlupakan. Juga seperti cairan sihir dengan mantra-mantra pikat yang dituangkan dari sebotol wine yang anggun.

Anggun. Jakarta yang anggun. Seanggun wanita dewasa yang menggandeng tas Guess, bersepatu Prada, dan berkacamata Fendi. Membentuk citra elegan. Membalut kultur post-modern yang kini menjadi tanda tangan, gaya, identitas para individu yang beragam. Jika Fira Basuki pada novelnya menyebut Singapura sebagai Rojak (rujak), penuh keanekaragaman kultur dan karakter manusia, maka Jakarta adalah setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, dan setengah hamburger.

Eksotis. Gw juga suka menggambarkan kota Jakarta dengan kata itu. Eksotis, karena ada daya pikat lain dibalik balik dimensi yang terang benderang itu. Sebuah dunia yang lebih nyata. Mungkin keras, tetapi historis. Berwarna abu-abu dan cokelat kekuningan, direkam oleh bangunan-bangunan tua, gitar anak-anak jalanan dan kubangan-kubangan air di musim penghujan. Yang berwarna hanyalah merah dan putih.

Gw sering bertanya-tanya. Seperti, apakah pernah terlintas di pikiran Fatahillah bahwa bandar yang direbutnya dari Kerajaan Sunda 481 tahun lalu akan menjadi sebuah kota pusat peradaban modern, dengan Starbuck dan high rise building menjulang mencakar langit di setiap sudut kotanya? Juga apakah pernah terlintas di pikiran Si Pitung(jika benar ia ada), bahwa yang menjajah kota Jakarta bukan lagi Belanda? Pun terlintaskah di pikiran seorang Benjamin S. tentang gw, salah satu dari sekian generasi mtv yang mengenal lenong tidak sebaik mengenal rolling stone?

Gw juga pernah berkhayal, Fatahillah ada di zaman ini, merasakan naik Trans-Jakarta, mengantre busway yang hampir selalu penuh itu. Dan Pitung(andai benar ia ada), melawan preman-preman yang galak di Kampung Rambutan. Dan Almarhum Bang Ben, andai engkau masih ada, duduk-duduk di Taman Ismail Marzuki, bermain pantun tentang ironi hidup yang semakin keras dan segala kisah-kisah ibu kota. Kisah-kisah yang tak akan pernah habis, tetapi selalu ada ruangan untuk menuliskannya di tengah sempit dan sesaknya kota itu. Kisah-kisah dari lobi hotel terang benderang hingga kolong jembatan yang temaram…

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ehh, temen temen mu ikan semua ya?

  2. Sesemrawutnya Jakarta, saya pribadi betah di kota ini; kecuali satu: asap bajaj 2-tak yang bikin pusing setengah mati.
    Banyak banget hal menarik di kota ini: cerita2 lucu-satir di jalan, pameran lukisan, banyak seniman, kota yang eksotis, sampai event2 besar yang digelar di kota ini…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: