Pet (part I)

May 31, 2008 at 3:51 pm | Posted in cumi-cumi | Leave a comment

Dari sekelompok orang yang berinteraksi dengan hewan, ada sebagian orang sedih karena tidak bisa memiliki hewan yang ingin ia pelihara, sebagian lagi sedih karena tidak bisa memelihara hewan yang ia miliki, sisanya adalah orang orang yang sedih karena terpaksa memelihara hewan yang tidak (ingin) ia miliki…

Cerita dimulai di suatu malam sekitar dua tahun lalu, masa masa di mana gw bisa tertidur(atau tepatnya ketiduran) dengan masih menggunakan seragam abu-abu lengkap dan tanpa sempat cuci tangan setelah makan. Antara lelap dan terjaga, gw merasakan sebuah sensasi yang tidak biasa pada jari-jemari. Sensasi itu seperti geli yang ditimbulkan jika adik bayimu yang baru tumbuh gigi susu depan menggigitmu. Ketika membuka mata, gw akhirnya tahu siapakah pembuat sensasi itu. Seekor tikus kecil sedang menggigit jari-jemari gw(seperti dibilang sebelumnya, gw mungkin lupa cuci tangan setelah makan). Dengan tanpa ekspresi, gw mengibaskan tangan dan melanjutkan tidur. Begitulah awal ‘persahabatan’ gw dengan hewan peliharaan yang satu ini.

Akhirnya beberapa bulan berlalu. Tibalah masa-masa dimana gw (sangat) terbiasa mendapati tikus kecil(dan teman-temannya) meniti seutas kabel yang tergantung di atas kamar gw seakan akan pemain sirkus profesional atau mendapati mereka sedang asyik mengunyah sebungkus mie instan gw dengan tanpa dosa dan kesadaran bahwa betapa pentingnya sebungkus mie instan utuh bagi seorang anak sma yang sedang ngekos. Sungguh hewan peliharaan yang sangat pengertian.

Hingga datanglah suatu pagi yang cerah. Gw masuk ke kamar mandi dan melihat seekor tikus sedang berenang menyelamatkan diri karena hampir tenggelam di dalam kloset. Sungguh, tidak ada pose tikus yang lebih mengerikan selain sedang dalam keadaan antara hidup dan mati di dalam kloset. Dengan spontan, gw ambil sikat bertangkai panjang dan mencekik leher si tikus dengan sekuat tenaga. Si tikus berteriak-teriak (mengeluarkan bunyi teraneh yang pernah gw dengar dari seekor tikus) hingga akhirnya ia kehilangan kehidupannya. Teman, gw telah menjadi seorang pembunuh. Gw membunuh binatang peliharaan gw sendiri. Lalu dengan tangan berlumur dosa itu, gw masukan jenazah tikus tersebut ke dalam keresek dan membuanya ke tempat sampah. Gugurlah seekor tikus yang sedang bernasib malang dan terpaksa berakhir kehidupannya di tempat pembakaran.

Sayang, ibarat pepatah…gugur satu tumbuh seribu. Bisa ditebak akhir ceritanya, hingga gw pindah kosan, kami tetap bersahabat.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: