nobita dan pak guru

May 2, 2008 at 3:06 pm | Posted in tongkol | Leave a comment

Jika gw nggak denger cerita bokap yang pagi tadi upacara Hardiknas di alun-alun kota, mungkin gw gak bakal ngeuh sama sekali tentang peringatan Hardiknas tahun ini(yang emang terasa kurang gregetnya). Apalagi hari ini gw bolos kuliah dan sepanjang hari guling-guling di kasur gak karuan. Gw baru bangun dari kasur saat adik gw yang Senin besok bakal ujian nasional SMP maksa gw—zaman sekarang adik lebih galak daripada kakak—mengajarkan matematika seakan-akan kakaknya jago matematika sedunia(padahal gw lulus SMA dengan nilai matematika pas-pasan).

Yah, bakat orang beda-beda sih. Mungkin adik gw(dan kakaknya) tidak berbakat dalam bidang matematika(dan juga bidang yang lain??). Namun, minimal adik gw harus ngerti dong hal-hal yang bersifat basic. Yang gw sesalkan, kok justru hal-hal basic tersebut belum dikuasai pada saat H-3 ujian. Jadi, selama ini adik gw kemana aja? Setau gw sih doi rajin pergi sekolah. Belajarnya juga rajin. Lalu dimana letak kesalahannya?

Gw jadi ingat cerita Doraemon. Dalam cerita Doraemon sering diceritakan Nobita yang ketakutan sewaktu-waktu Pak Guru akan datang ke rumah, mengunjungi ibunya, dan menceritakan perkembangan belajar Nobita(yang ternyata tidak kunjung berkembang). Dengan demikian, proses pembelajaran terpantau dengan baik. Guru dan orang tua sama-sama tau sampai dimana batas kemampuan siswa.

Gw kurang tahu, apakah sampai sekarang tradisi kunjungan guru tersebut masih ada di Jepang atau tidak. Yang jelas, di Jepang profesi guru sangat dihargai. Paska bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, gurulah yang pertama kali ditanyakan dan dicari oleh kaisar Jepang. Kaisar menanyakan jumlah guru yang tersisa, bukan malah harta benda atau senjata.

Pada tahun 1945 itulah Indonesia dan Jepang sama-sama memulai kehidupan baru. Jepang berusaha memulihkan diri paska keterpurukan yang diakibatkan kekalahannya dalam Perang Dunia II dan Indonesia mulai membangun negeri setelah berhasil mengumandangkan proklamasi. Setelah enam dasawarsa, hasilnya jauh berbeda. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kesejahteraan sosial, Indonesia berada jauh di belakang Jepang. Padahal, dua negara tersebut bertolak dari titik yang sama. Yang membedakan setelahnya adalah concern negara masing-masing terhadap dunia pendidikan.

Dunia pendidikan Indonesia punya Ki Hajar Dewantara, punya Hardiknas, punya Wajib Belajar Sembilan Tahun, punya anggaran 20% dari APBN, punya gedung-gedung sekolah yang mentereng, punya kurikulum yang terus diupgrade, dan punya segala jenis program pendidikan yang baik. Sementara, dunia pendidikan Jepang punya guru-guru yang berdedikasi tinggi dan para siswa yang menghormati guru-gurunya, seperti Nobita yang tetap menghormati Pak guru yang galak, yang berkeliling komplek mengingatkan satu-satu muridnya untuk belajar.

Untuk seluruh guru dan pelajar Indonesia, Selamat Hari Pendidikan Nasional !!!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: