dagang

Sebagai emak-emak rempong tukang belanja sejati, gw selalu salut sama tipe-tipe orang yang bisa jualan es krim di Kutub Utara waktu musim dingin alias orang-orang yang jagooo banget dagang (zaman sekarang istilahnya bergeser lebih luas menjadi usaha/bisnis). Meski sangat percaya kalau 9 dari 10 pintu rezeki itu berdagang dan selalu mupeng jago dagang/bisnis, mental konsumtif gw berkata jika semua orang jadi pedagang terus siapa yang beliii. hahaa. Ya kalau sekadar jual jual barang orang (bahasa kerennya reseller) gw pernah lah, dagang gula, telor asin, celana panjang, kerudung, dan lain-lain. Jualan barang sendiri paling mentok dulu pas kecil jualan es mambo. Nah, akhir-akhir ini gw mulai dagang kecil-kecilan lagi sama temen. Masih sistem reseller sih, bedanya kita mulai ikut trend bisnis zaman sekarang yang jualan di sosial media juga ngemodal endorse sama giveaway segala. Eh, ternyata menyenangkan yah. Hahaa. Cuman ya kalau direnungkan kembali, balik lagi juga ke fitrah kasta gw dalam rantai ekonomi bahwa gw bakatnya emang belanja *ciyaaaann.

Apalagi sekarang lagi eranya startup(perusahaan-perusahaan baru). Banyak startup kece-kece bermunculan. Makinlaaah gw konsumtif. Hahaa. Tapi emang pada pinter pinter amaaat siiiiih menjawab dan memenuhi tantangan zaman (serta menarik investor). Banyak startup yang dulu kecil-kecilan banget sekarang berkembang pesat. Ada yang awal-awal jualan baju online ngebungkusin dagangan sendiri ampe pegel, sekarang punya showroom di mall elit. Ada yang dulu geeky dan ndeso sekarang CEO E-Commerce (lah gw dulu ndeso sekarang masih ndeso). Ada yang hasil ngelamun di ruang tamu, sekarang punya startup bidang kecantikan.Jagooo!

Nah menurut gw, meski sekarang startup dibilang akan bubble burst (di India bahkan sudah?), memulai usahaaaa sama sekaliiii tidak dilarang. Jadi kalau ada abege labil yang dagang-dagang onlen atau fresh graduate buka cafe kecil terus ngaku-ngaku CEO anu anu jangan dinyinyirin….dibeli aja, Sis. Hihii. Modalnya duit orang tua? Gapapa yang penting halal cyn. Modalnya ngutang bank? Gapapa yang penting nanti kebayar. Gak punya modal? Modalin!

Syukur-syukur makin banyak startup yang pro pedagang kecil (dan paling penting dimodalin sama investor). Startup baso misalnya, membuat aplikasi pusat abang baso gerobak biar gampang dicari dan dipanggil keberadaannya di sekitar rumah. Atau startup jasa personal berbasis order online , membantu tukang cuci, tukang sol sepatu, tukang tambal panci buat nyari orderan. Dan lain-lain dan lain-lain yang lebih kreatif yang mana tentu gw gak kepikiran karena kalau gw kepikiran, gw udah geser kasta bukan cuman sekadar pembeli tapi founder startup. Hihihiii…

Begitulah. Selamat berdagang yang semangat! Selamat belanja yang bijaksana! Selamat berinvestasi yang penuh hati nurani!

*ditulis dalam rangka bulan Desember saat pricetag dicoret di mana-mana….

Advertisements

menulis kembali (3): menulis

th
photo from serc.carleton.edu

 

Tulisan ini (gw harap) adalah seri terakhir dari rangkaian tulisan gw di blog ini dengan judul “menulis kembali”. Karena dari judulnya saja sudah terlihat serial ini berbau narsis seolah ada saja yang membaca lalu menanti tulisan gw selain gw sendiri maka mari kita akhiri saja dan berharap ujung trilogi ini bisa memutus rantai penyakit narsis yang berlebih serta kemalasan menulis yang akut.

Akhir-akhir ini gw membaca kembali beberapa tulisan gw yang telah lampau. Gw lalu menyadari gw adalah penulis blog/notes/apapun itu namanya yang terbawa zaman sekaligus tergerus waktu? Apa artinya?

Sebagian besar tulisan gw kurang relevan di zaman lain. Mereka terjebak pada masanya. Membaca satu tulisan gw pada suatu masa yang berbeda jadi membingungkan juga kurang makna. Ambil contoh tulisan-tulisan gw di rentang tahun 2008-2012 (tercerai berai di blog, sosial media, buku harian, agenda rapat dsb). Sudah mah bahasanya alay, tata bahasa berantakan, gaya penceritaan berulang-ulang, dan temanya tak bisa dibawa ke masa kini. Di rentang waktu yang lebih baru, kualitas tulisan gw tak jadi lebih spesial. Kuantitas juga menurun dan gw tak begitu cakap menjawab tantangan zaman.

Akan tetapi, tak memungkiri satu dua tulisan yang terjebak di dimensi lalu itu memang istimewa adanya. Ini sungguh bukan sombong maksudnya, justru sedih karena betapa gw yang hidup di masa ini tidak bisa menyaingi gw di tahun-tahun ke belakang dan betapa pemikiran gw zaman sekarang tak bisa lebih maju dari masa lalu.

Maka bertambahlah status gw menjadi penulis narsis tak multizaman yang senang terjebak nostalgia.

Lalu mengapa gw tetap menulis kembali? Gw tak tahu persis. Tapi setiap gw melewati jalanan kota yang sesak, berdiri di depan laut yang ombaknya menggulung-gulung, membaca twit politik, menatap gedung tinggi yang sendu, menonton gosip, mengenal orang-orang hebat, dan hal-hal lain semacam itu, gw tahu gw ingin menulis, bahkan sekadar mengulang gaya bercerita yang sama dalam cerita-cerita yang tak akan diingat lama.

menulis kembali (2) : Angkot

Tak ada yang lebih menguji batas emosi selain berada di angkot yang ndut-ndutan maju pelan-pelan untuk menjebak satu dua calon penumpang yang beranggapan angkot bakal langsung cuss jalan. Padahal, ketika penumpangnya sudah naik angkotnya mundur lagi. Begitu seterusnya. PHP luar biasa. Kapan gw sampe rumahnya, Bang?!!!

Tak bisa dipungkiri sekarang ini memang era sulit untuk moda transportasi umum macam angkot, mikrolet, metromini, kopaja, dan teman-temannya. Belasan tahun lalu di kampung orang tua gw punya usaha angkot sekitar dua atau tiga. Saat itu  belum banyak kepala keluarga yang punya mobil atau motor, tetapi bisnis angkot sama sekali bukan bisnis yang banjir untung. Bayangkan sekarang yang jumlah motornya tumbuh sekitar 10 persen per tahun, lebih-lebih di kota besar macam Jakarta.

Faktanya memang ini sedang zaman alat transportasi berbasis order online yang punya pangsa pasar besar, yakni manusia-manusia masa kini yang sering tergesa dan ingin efisiensi. Sekarang pula telah datang suatu masa, di mana kita berinisiatif memberi tip abang ojek online yang mengantarkan dari rumah ke kantor dengan tarif lima belas ribu, tetapi cuek berat dengan supir angkot yang mengangkut kita dari Senen sampai Kampung Melayu pada jam sepi tanpa satu pun penumpang lain dengan tarif lima ribu saja. Kita relakan kembalian enam ribu diambil supir taksi, tetapi kembalian seribu rupiah lecek dari abang angkot ditungguin sambil pasang tampang jutek.

Tapi, tapi, tapi…. Tapi kan angkot nyebelin. Suka ngetem. Suka serobot-serobot. Suka galak. Suka berhenti sembarangan. Suka serampangan. Kalau kita protes kita yang dimaki-maki dan diusir layaknya sinetron. Nyebelin level dewa dewa Yunani.

Hanya saja, terkait hukum kausalitas, entah mana yang benar. Apakah masyarakat semakin malas naik angkot karena angkot makin nyebelin? Atau angkot makin nyebelin karena masyarakat semakin malas naik angkot?

Yang pasti, telah muncul suara suara di dalam kepala, yang kedua mata padanya memandang muka-muka penumpang yang lelah dan supir angkot yang penat, di dalam angkot yang terjebak di jalan sesak, pada suatu senja yang kusut.

Yang membuat gw menulis kembali: Jakarta, 12 Agustus 2016.

 

menulis kembali (1) : Tragedi

Setelah menunggu beberapa lama, ternyata tak kunjung ada toko perlengkapan bayi yang memberi gw stroller gratisan untuk direview. Suram. Gak jadi deh samaan stroller sama Rafi Ahmad. Mungkin gw memang ga cocok jadi mamah-mamah blogger kekinian. Eh, ini bukan sarkasme lho yaaaa. I really adore mamah-mamah blogger. I learned a lot from them. I love Alodita (beserta fenomenanya) dan banyak mamah blogger lainnya. Pada intinya, gw sangat mengapresiasi parenting blogger kek, beauty blogger kek, travelling blogger kek, food blogger kek, tech blogger kek, atau siapapun yang meluangkan waktunya untuk berbagi hal berguna kepada orang banyak… karena yang gw lakukan di sebagian besar waktu luang (pas di angkot atau ketika bos gak melototin dari belakang-ups) adalah nonton drama Korea.

Tentang drama korea (drakor) ini, pada suatu kesempatan gw ikut kelas kebijakan publik dengan pembahasan kebijakan ekonomi Indonesia masa orde baru yang ternyata tidak jauh berbeda dengan Korea Selatan. Yang pertama gw pikirkan adalah: wah iyah betul, itu sama dengan cerita di drakor yang gw tonton. hahahaaa… Kasihan yah, referensinya drakor, bukan buku-buku Stigiltz atau Mankiw. eaaaaa.

Eh tau-tau semalem ada berita baru. Meski reaksi gw lagi-lagi: kok ini mirip kisah drama korea (sedih amat lagi-lagi referensinya fiksi), tetap tidak menutupi kesedihan gw yang sangat dalam…tentang warga dari kota kecil yang harapannya dipaksa dibuang di kotak suara…menguap bersama asap pekat di pesta para penjahat.

Lalu pada akhirnya gw tersadar. Ini bukan drama. Ini tragedi.

Untitled

ikan kering melahirkan (jilid dua)

Biar kaya mamah muda blogger kekinian boleh lah yaaa nulis-nulis dikit tentang cerita kelahiran (dalam dua tahun ini gw menulis dua cerita tentang kelahiran, cukup produktif juga-entah nulisnya-entah bikin anaknya huehehe). Moga-moga pelan-pelan blogger ini isinya penuh review stroller dan resep MPASI. *endorse aku, Stokke endorse akuh…. #murah

images

Jadi beginih, waktu ituuu barang-barang keperluan bayi baru lahir udah dipulangin dulan ke kampung, pan rencana lahirannya di sana. Maklum gw agak cupu, pengennya deket-deket keluarga besar kalau lahiran. Gw pun pamit sama bos minta izin cuti, “Bos aku udah delapan bulan setengah nih hamilnya, sekitar sebulan lagi lahiran. Besok mulai cuti ya bu bos, bye bye mmuah jangan rindukan aku….”

Hari pertama cuti, gw melahirkan.

images

Pagi itu gw dibangunkan oleh ketuban yang keluar sampai membasahi sepre. Langsung lemesss, tapi tetap mencoba berpikir jernih kaya minyak goreng kemasan…cuss secepatnya ke RSIA tempat biasa kontrol setelah : packing baju sekadarnya, masukin lipen ke ransel, dan minta jok mobil dialasin keresek. Di mobil gw baringan aja karena takut ketuban makin banyak keluar karena gravitasi (mendadak ahli fisika).

Sampai RS gw langsung dibawa ke ruang persiapan persalinan, dipastikan itu emang ketuban-bukan pipis, diCTG, dicek bukaan, lalu disuruh nunggu dokter yang lagi operasi. Pas udah mulei mules level akut dan rasa-rasanya pengen nungging guling guling gw bilang sama bidan jaga kalau gw udah sakit banget. Bidannya ga percaya. Mungkin gw tampang tukang tipu (padahal emang).

Setelah pada akhirnya bidannya percaya dan ternyata bukaan gw udah lengkap baru deh semua panik. Cuss jalan ke ruangan bersalin sambil nahan-nahan takut lahiran di tengah jalan. Pas sampai ruang bersalin rambut si bayi ternyata udah kelihatan dan gw disuruh mengejan (sama bidan) lalu lahirlah si pria kecil (yang saat itu beneran kecil sekali lho) yang menangis kencang. Alhamdulillah.

Dokter pun datang (duh dok, telat doook) dan membantu kelahiran si plasenta. Abis itu cuss lagi deh dokternya. errr errrrr….

Terlepas dari cerita kelahiran yang mendebarkan  karena diawali ketuban pecah dini di usia bayi prematur, penanganan kelahiran yang gak smooth, jalan cepat dalam keadaan bukaan lengkap (ini kalau dipikir-pikir lagi high risk banget huhuhu), Alhamdulillah si pria kecil sehat (sempat jaundice tapi itu juga telah berlalu).

Alhamdulillah. Alhamdulillah.

and welcome to the challenging motherhood (jilid 2) huehehehe

index

tiba tiba kuberbadan dua

Bagi gw kehamilan adalah pengalaman spritual dan perjalanan yang magis. Oleh karena itu, dulu ketika kehamilan berakhir yang mana diiringi dengan ketakstabilan hormon dan masa masa baby blues, gw agak terjebak susah move on dari aura-aura hamil. Namun, sekangen-kangennya sama hamil waktu itu, bukan berarti gw langsung pengen hamil lagi siiih (warungnya juga pan masih tutup #eh). Justru pokonya gw pengen hamil lagi nanti di saat yang paling tepat. Ini dalam bayangan gw sekitar 5-6 tahun lagi.

Sambil berbekal bayang-bayang 5-6 tahun lagi dan petuah orang tua yang udah kaya duta BKKBN, pergilah gw dengan gagah berani ke dokter kandungan untuk pasang alat kontrasepsi as soon as possible. Awalnya bu dokter cerita macem-macem kontrasepsi dari mulai yang alami sampai yang hormonal, tetapi karena gw habis dibrainwash duta BKKBN (atau entah buzzer perusahaan farmasi), gw udah bulat tekad mau pilih kontrasepsi apa. Gw pilih:IUD. Doi dipasang di daerah bawah sana, menghalangi sperma masuk, tingkat kegagalan paling rendah, tak melibatkan hormon-hormon, cukup pasang sekali untuk tiga sampai lima tahun. Dan taulah gw kenapa pasangnya cukup lima tahun sekali, karena masukin IUD ke bawah sana sakit sodarah sodaraaah! Lumayan bikin trauma. Namun, tak apa….demi Keluarga Berencana sakinah mawadah warahmah.

Hari berlalu, musim berganti. Keluarga Berencana, Gusti Allah yang menentukan. Gw hamil (lagi). Gw tiba-tiba berbadan dua.Siapalah gw ini, gadis cantik ababil dan mudah galau. Maka berkubanglah gw dalam kegelisahan tentang anak pertama yang masih begitu kecilnya harus mulai berbagi kasih sayang orang tua dengan adik barunya. Sampai akhirnya gw sadar…apalah gue, sok sok berprasangka tentang masa depan. Dukun juga bukan. Jadilah gw memPD kan diri: hooo bukan berarti kasih sayang gw akan terbagi, tapi kasih sayang gw yang bertumbuh membesar. Everything is gonna be okeh. *okeh. pokonya PD dulu.

(Cuman memang tetep tatuut dengan komentar orang: hah Hamil lagi, kasian kakaknya…dan blablablaaa. Galau lagiiih deh. Hahaa)

Alhamdulillah sekarang sudah mau 8 bulan hamil. Kadang Ge er, ini niih ada calon makhluk dunia lagi yang rela berbagi kehidupan selama 9 bulan…berbagi darah dan nafas. Dan InsyaAllah kelak setelah terlahir akan berbagi ilmu kehidupan dengan gw, bapaknya, dan kakaknya. Aamiin.Cuman ya itu, dibalik ge er lebih banyak deg degannya, ndredeg,…bisa ga ya jadi Ibu yang baik untuk dua makhluk kecil ini. Pan titipan Tuhan gak boleh dijaga asal-asalan (walau tetep positip tingking Tuhan juga gak asal-asalan nitip, hosh).

Terlebih seiring perkembangan zaman, teknologi, dan eksistensi ibu-ibu muda gaul cetar membahana di jagad raya lebih mudah belajar jadi orang tua pun banyak teman sharing. Walau kadang-kadang jeleknya juga menimbulkan percikan-percikan tekanan mental yang bikin kudu pinter-pinter menata hati (kadang kadaaang ajah sih inii <– ga mau dianggap sering tertekan hahaa). Contohnya nih, gw kudu tetep tegar hati sekaligus berusaha ga dianggep kaya orang jadul yang stop ngeASI pas hamil. Atau dianggep pemalesan pas ngasih anak bubur instan. Atau dicibir ga kreatif karena ga bisa bikin maenan DIY. Atau ngerasa berdosa karena anaknya belum bisa doa mau bobo. Atau ngerasa jadi Ibu buruk karena nitip anaknya ke nanny kerja sampai malam. Atau ngerasa anaknya bermasalah karna belum bisa ngerangkak/ngomong/baca/ngitung and bla bla blaa… Susah euy, tapi ya mari dibawakan santai (pan karena emang udah didukung argumen, referensi yang baik, dan pengetahuan yang cukup-mommy should never stop learning).

Begitulaaah….

Gw tentu saja juga bukan ibu Hamil yang sempurna saat ini (dari nutrisi, spritual, emosi….). Namun, gw tetap meyakini kehamilan ini magis dan indah. Semua kehamilan indah dengan caranya sendiri-sendiri.

Happy early Mothers Day (second Sunday of May)

May the force be with you. xoxo

ikan kering ulang tahun

Bertambah tua, kadang bukan hanya tentang satu dua helai uban atau kerutan di bawah mata yang tetiba muncul saat menuju umur kepala tiga. Menjadi tua adalah ketika di toko buku bingung mau beli apa dan lebih sibuk membayangkan tentang anak yang bakal bagus pakai tas unyu ini dan tempat pensilnya yang itu, serta memasukkan judul buku-buku terbaik ke dalam list “100 books You Should Read” untuk anak gw kelak. Menjadi tua ternyata adalah tentang menjadi sok tua, berpengalaman, dan punya warisan walau itu hanya pengetahuan judul-judul buku (yang mana juga sebenernya terbatas :P) huehehehe.

Menjadi tua selain sok tua, bisa jadi bertambah narsis. Ulang tahun sendiri, nulis-nulis sendiri ucapan sendiri. Walau sudah berjam-jam tidak bisa merangkai kalimat-kalimat ciamik, tidak apa apa (pasrah). Yang penting hati bahagia. Bikin kue ultah sendiri, bawa ke kantor. Walau dua anak curut yang sembunyi di balik kardus arsip yang berantakan itu bahkan bakal bilang kuenya gak enak, tidak apa-apa. Yang penting hati bahagia terus eksis posting di instagram dan Path.

Selamat ulang tahun Ikan Kering, yang tidak lain adalah gw sendiri, anak kecil biasa pada masanya, yang punya kehidupan yang hampir mirip dengan 89,69% anak Indonesia kelahiran 1988. Pagi-pagi ke sekolah, jam istirahat lompat tali, di kelas meneriaki anak lelaki yang mengintip dengan rautan bulat, lalu berkerumun mencium pulpen wangi yang dianggap narkoba. Pulang sekolah main galah asin sebentar, di rumah main tamagochi, agak sore nonton satria baja hitam, sebelum tidur baca serial cantik, dan hari Minggu nonton Doraemon. Namun, ketika bertambah tua, akhirnya menyadari semakin banyak yang berbeda. Ada yang sudah beranak dua. Ada yang masih single. Ada yang sekolah ke luar negeri. Ada Ibu rumah tangga. Ada Ibu yang menyusui anaknya. Ada Ibu yang memilih memberikan susu formula. Ada partisipan fanatik partai agama. Ada yang liburan dua minggu sekali. Ada yang bekerja di tengah laut lepas. Ada macam-macam rupanya.

Selamat ulang tahun ikan kering. Semoga bertambah tua tanpa menjadi terlalu sok tua. Semoga bertambah ilmu tanpa perlu terlalu sok tahu. Semoga menjadi bijaksana, melihat dari berbagai mata, mendengar dari dalam hati. Memasak makanan yang rasanya bertambah wajar dari hari ke hari. Semakin pandai dalam mencintai dan bercinta *eh. Dan bersyukur atas apa-apa yang dipunya, pun apa-apa yang belum dipunya.

Selamat ulang tahun, sayang