Gw telah tiga tahun mendatangi sebuah panggung. Jakarta. Iya, Jakarta adalah sebuah panggung. Ia adalah panggung untuk siapa saja dan apa saja. Drama, komedi, horor, satir, eros, parodi, pantonim, romansa, sulap, wayang, sirkus, lenong, dan segalanya. Jakarta adalah tempat dimana kita bisa melihat buaya-buaya bermain sandiwara. Jakarta adalah tempat dimana tikus-tikus pandai berakrobat. Jakarta adalah tempat para pemain watak. Jakarta adalah tempat para pelawak yang tidak lucu. (Anehnya, kadang gw tertawa.)
Sebagai penonton yang datang dari kampung, gw selalu terpukau dengan sisi sang panggung yang gemerlap. Cahaya panggung yang berasal dari jutaan watt lampu yang membutakan itu sungguh cantik. Luar biasa cantik. Terlebih jika datang malam. Namun, di sisi lain panggung yang tak terkena sorot lampu, terasa temaram. Bahkan gelap. Terlebih jika datang malam.
Sementara, panggung berputar tanpa henti. Drama drama drama, tetapi lucu. Komedi, tetapi getir.
Nah, sebenarnya, akhir-akhir ini ada bagian favorit gw di atas panggung. No no no, bukan sandiwara para buaya, tetapi Romance. Iya, romansa. Romansa adalah cerita yang bisa membuat gw tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya. Bahkan mengingatnya. Ia menghantui banyak malam lebih dari cerita-cerita misteri.
Dan Romance selalu tentang banyak hal. Ia bisa tentang berdiri bersebelahan di dalam busway yang penuh sesak. Ia bisa tentang pelataran Museum Fatahillah yang bersejarah. Ia bisa tentang debur ombak di pantai ancol yang keruh. Ia bisa kerlap kerlip lampu gedung-gedung yang dipandang dari restoran di atas atap plaza Semanggi.
Iya, Romansa kini telah memikat gw seperti halnya cahaya lampu yang gemerlapan luar biasa cantik itu memikat. Dengan demikian, romansa telah membuat gw berat mengalihkan tatapan dari sang panggung.
*Dedicated to someone who even doesn’t have facebook,….
Jakartalah sang panggung tempat buaya bersandiwara.
Jakartalah sang panggung tempat tikus berakrobat.
Jakartalah sang panggung tempat politikus melawak.
Jakartalah sang panggung tempat aku dan kamu. (menatap bulan dan kerlip lampu yang sama)