Archive for the ‘tongkol’ Category

hal-hal baik…

October 19, 2008

mungkin gw terlalu semena-mena, egois, arogan, atau apapun itu lah dengan menyalahkan posisi edar bumi terhadap matahari(yang konon berarti cuaca di bumi lagi panas banget), menyalahkan kecengan yang lebih memilih pacarnya daripada gw, menyalahkan teman yang terlalalu sensitif, menyalahkan hari-hari yang agak sedikit hmmm tidak baik dan menyalahkan segalanya kecuali diri sendiri. hingga pada akhirnya gw menyadari mungkin sesungguhnya letak kesalahan ada pada gw(dan bukannya hal ataupun orang lain).  ini hanya tentang bagaimana gw harus memandang sesuatu.

dan andaikata gw tidak bisa meralat keluhan-keluhan gw di hari-hari lalu, setidaknya di masa kini gw mengetahui betul kedatangan hal-hal baik.

.selamat datang hal-hal baik.

Kemarin gw bangun lebih awal(yang berarti juga mandi lebih awal). Sedikit berbenah rumah. Memasak banyak-banyak. Beberapa teman akan datang berkunjung atau lebih tepatnya menghabiskan persedian makanan dan berbuat sedikit kerusakan–kerusakan yang menyenangkan dengan diiringi obrolan sarkastis dan maki-makian khas remaja(aaaah, kita sama sekali sudah bukan remaja). Lalu menjelang sore kita semua keluar rumah, menyerbu pemandian air panas, melakukan sedikit huru hara, memenuhi memory kamera digital, melakukan aksi pamer dada(khusus para pria), dan makan malam di rumah makan sisi sawah.

Menyenangkan.

Itulah kesenangan yang tidak bisa diganti dengan seamplop duit(kecuali emang amplopnya jadi tebel bangeet).

Dan gw jadi teringat kata kata di Mc Culland di film into the wild yang bunyinya kira kira begini: “Kebahagian itu baru berarti jika dibagi dengan orang-orang yang kita sayangi”. Tentu saja benar, karena sangat tidak menyenangkan jika kamu pergi ke pemandian air panas sendiri, berfoto2 sendiri, makan malam sendiri, dan memaki-maki diri sendiri.

Kita perlu orang lain untuk berbagi bahagia dan derita.

Ternyata hal-hal baik tidak berhenti hingga disitu saja. Saat gw pulang, ada sebuah pesan singkat yang belum terbaca, “Maafin y atas yang kemarin2″, dari si cowok ganteng yang tidak jelas sebab musababnya memusuhi gw selama beberapa hari ke belakang. akhirnya…berakhir baik.

.hal-hal baik.

semoga hal-hal baik terus berlanjut, di kantor presiden, di pasar modal, di pembuangan akhir, di sekolah reyot, di kolong jembatan, di terminal, di rel kereta api, di kutub, di negeri konflik, di ethiopia, di rumah saya, di rumah kamu, dan di mana-mana…

dunia dalam genggaman

September 4, 2008

Dalam beberapa hal, gw suka handphone. Kadang-kadang handphone dapat diandalkan sebagai sumber beberapa kebahagiaan kecil. Handphone suka membawa kabar baik, contoh: sms jarkom kelas tidak jadi kuliah. Handphone membuka peluang agar silaturahmi dengan teman dan keluarga tetap terjalin walau terhalang jarak yang jauh, contoh: menelpon orang tua di kampung minta kiriman. Handphone juga membuat gw tersenyum spontan saat membaca sms-sms yang menyenangkan, contoh: sms dari kecengan. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, mengingat perkembangan zaman menuju era globalisasi semakin menuntut keefektivitasan dan mobilitas yang tinggi, handphone telah berperan sebagai media komunikasi yang bisa memperpendek jarak serta mempersingkat waktu…membuat hidup yang sulit sedikit jadi lebih mudah.

Kini, fungsi handphone semakin berkembang. Tidak hanya bisa menelepon dan sms, handphone juga bisa melakukan segalanya sebab segala fasilitas aneh-aneh ditambahkan ke dalamnya. Ada kamera, ada music player, ada internet, ada office, ada semuanya. Bangun tidur dibangunin alarm handphone(dilanjutkan dengan morning call dari yayang), ngirim e-mail ke rekanan pakai handphone, waktu macet liat rute jalan pakai handphone, bosan di perjalanan cukup dengarkan musik dari handphone, foto-foto waktu naik gunung pakai handphone(ngapain bawa DSLR, berat, toh kamera handphone udah canggih), presentasi perusahaan pakai handphone, musisi bikin lagu pakai handphone, anak lahir diabadikan pakai kamera handphone, browsing di dunia maya sepuas-puasnya pakai GPRS di handphone. Pokoknya semua serba handphone(jangan-jangan lama-lama masak ma nyuci juga pake handphone?!)……

Fenomena yang terlihat sekarang, dimana-mana orang menjinjing handphone, di telinga orang-orang tertempel headset, jempol orang-orang nempel terus di keypad. Semuanya, dari tukang es sampai anggota DPR, dari seniman sampai tukang batu. Apalagi sekarang, tarif telepon dan sms telah jauh lebih murah daripada dua tahun lalu disaat dunia seluler hanya dikuasai oleh tiga operator besar. Konsumen dapat memilih sebebas-bebasnya operator mana yang paling berkenan di hati(yang berarti iklannya paling sukses). Kita bisa ngobrol sampai kuping panas bahkan hingga dua puluh lima jam sehari(sori, gw lebay). Yang jelas, ‘budaya’ handphone ini memang pas banget buat orang Indonesia, yang sebagian besar masyarakatnya hobi ‘bercerita’, bercengkrama, ramah-ramah, punya sisi romantisme yang tinggi, dan agak lebay(kayak gw…)

Namun, ada kalanya benda bernama handphone itu bisa jadi sumber masalah juga. Konon, sinyal yang dipancarkan handphone lebih sering membawa kecemasan dan ketidaktenteraman daripada membawa ketenangan. Banyak juga kesalahpahaman yang ditimbulkan handphone. Belum lagi kalau sudah ketagihan, pisah dari handphone beberapa menit saja bisa kalang kabut. Sms gak dibalas sekali saja, ngamuk-ngamuk. Telepon gak diangkat paniknya setengah mati. Kalau seperti itu caranya, handphone jadi bikin orang sering makan hati lama-lama sakit jantung.

politik itu candu

August 30, 2008

sekolah itu candu, kata Roem Topatimasang. agama itu candu, kata karl marx. cinta itu candu, kata temen gw yang lagi naksir teman sekelas. dan akhir-akhir ini gw senang bilang :politik itu candu

Alkisah, saat pertama kali melihat beberapa iklan di tivi yang materinya cukup bagus, kebangsaan, dan konstruktif, gw dengan lugunya mengira itu hanya iklan layanan masyarakat yang tulus tanpa embel-embel propaganda politik walaupun di dalamnya mencantumkan nama seorang tokoh. Ada yang mengangkat tema pertanian, hidup adalah perubahan, kisah sukses juara olimpiade, sampai ajakan belanja ke pasar tradisional. Namun, setelah beberapa kali lihat, akhirnya gw sadar kalau itu sama sekali bukan iklan layanan masyarakat, melainkan kampanye politik. Seratus persen murni kampanye politik.

Seorang budayawan menulis di koran, iklan-iklan televisi seperti itu banyak mengandung zat-zat berbahaya. Jika dikonsumsi terlalu sering lama-lama akan menyebabkan efek samping yang buruk. Mungkin maksudnya, dampak buruk terhadap masyarakat dalam melakukan penilaian objektif terhadap suatu subjek politik, katakanlah seorang calon pemimpin atau sebuah partai. Selain itu, apabila iklan-iklan politik itu terlalu sering ditampilkan maka tidak jauh beda dengan produk-produk biasa yang diiklankan dengan satu tujuan, laku terjual untuk meraih kekayaan. Bahasa kasarnya : dagang.

Salah satu edisi majalah tempo menyebutnya gerai. Siapa yang mengemas paling menarik, paling bagus untuk dipajang di display, dialah yang terjual. Oleh karena itu, ada sebuah perusahaan yang lahan usahanya membuat ‘kemasan’ khusus partai dan tokoh politik agar mendapat citraan baik di masyarakat. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, slogan-slogan, materi pidato, dan segalanya yang bisa dikonsumsi publik diciptakan sebaik mungkin supaya menumbuhkan satu produk yang akan laris dilempar ke pasar. Seorang tokoh yang akhir-akhir ini paling rajin beriklan untuk pemilihan presiden 2009(tahu kan siapa?) pun meyakini bahwa siapa yang paling bagus dan strategis(juga gencar) kampanyenya dialah yang akan memenangi kompetisi.

Dan segela hiruk pikuk ini telah dimulai. Pemilihan presiden baru akan dilangsungkan tahun depan, tetapi bursanya sudah panas. Perputaran uang di dunia politik terjadi besar-besaran. Bisnis-bisnis musiman bermunculan, ambil contoh spanduk, kaos partai, dan bendera. Sementara mass media meraih untung dari order iklan yang melonjak. Stasiun televisi sibuk berlomba merebut rating, yang satu jadi election channel yang satu jadi tv pemilu. Koran-koran dipenuhi angka-angka yang dicetak besar dan tebal, satu halaman satu, sampai halaman tiga puluh empat.

dan gw pun menghitung. dari itung-itungan gw yang nilai pelajaran ekonominya pas-pasan itu, biaya iklannya mas SB, ditambah biaya iklan partai berlambang garuda, ditambah iklannya ketua ikatan petani, dan ditambah biaya mengotori jalan pakai ratusan bendera, kalau dibelikan sembako bisa dibagi-bagikan ke orang sekampung, bisa juga dipakai membetulkan sekolahan yang mau rubuh atau menambal jalan yang bolong-bolong. entahlah, mungkin hitungan-hitungan gw salah karena sudah terlalu pusing, sudah mabuk, mabuk politik.

politik itu candu.

setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, setengah hamburger

June 22, 2008

Dua malam yang lalu, gw datang ke ke sebuah hotel berbintang di pusat Jakarta. Gw duduk di lobi, melihat ke sekeliling, dan seketika tersedot ke dalam sebuah dimensi lain yang terang benderang. Orang-orang lalu lalang dengan langkah bergegas, seperti kilatan-kilatan lampu yang memantul di gelas-gelas kaca. Sebagian yang lain duduk di sofa, berbicara dengan sesamanya tentang segala hal, sebagian besar tentang uang. Orang-orang itu datang dan pergi. Hingga larut tak berhenti.

Inilah dimensi yang membuat penasaran. Mengingatkan terhadap pengalaman pertama di masa kecil saat mencoba kerak telor di sebuah pasar malam yang menghasilkan rasa memikat dan tak terlupakan. Juga seperti cairan sihir dengan mantra-mantra pikat yang dituangkan dari sebotol wine yang anggun.

Anggun. Jakarta yang anggun. Seanggun wanita dewasa yang menggandeng tas Guess, bersepatu Prada, dan berkacamata Fendi. Membentuk citra elegan. Membalut kultur post-modern yang kini menjadi tanda tangan, gaya, identitas para individu yang beragam. Jika Fira Basuki pada novelnya menyebut Singapura sebagai Rojak (rujak), penuh keanekaragaman kultur dan karakter manusia, maka Jakarta adalah setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, dan setengah hamburger.

Eksotis. Gw juga suka menggambarkan kota Jakarta dengan kata itu. Eksotis, karena ada daya pikat lain dibalik balik dimensi yang terang benderang itu. Sebuah dunia yang lebih nyata. Mungkin keras, tetapi historis. Berwarna abu-abu dan cokelat kekuningan, direkam oleh bangunan-bangunan tua, gitar anak-anak jalanan dan kubangan-kubangan air di musim penghujan. Yang berwarna hanyalah merah dan putih.

Gw sering bertanya-tanya. Seperti, apakah pernah terlintas di pikiran Fatahillah bahwa bandar yang direbutnya dari Kerajaan Sunda 481 tahun lalu akan menjadi sebuah kota pusat peradaban modern, dengan Starbuck dan high rise building menjulang mencakar langit di setiap sudut kotanya? Juga apakah pernah terlintas di pikiran Si Pitung(jika benar ia ada), bahwa yang menjajah kota Jakarta bukan lagi Belanda? Pun terlintaskah di pikiran seorang Benjamin S. tentang gw, salah satu dari sekian generasi mtv yang mengenal lenong tidak sebaik mengenal rolling stone?

Gw juga pernah berkhayal, Fatahillah ada di zaman ini, merasakan naik Trans-Jakarta, mengantre busway yang hampir selalu penuh itu. Dan Pitung(andai benar ia ada), melawan preman-preman yang galak di Kampung Rambutan. Dan Almarhum Bang Ben, andai engkau masih ada, duduk-duduk di Taman Ismail Marzuki, bermain pantun tentang ironi hidup yang semakin keras dan segala kisah-kisah ibu kota. Kisah-kisah yang tak akan pernah habis, tetapi selalu ada ruangan untuk menuliskannya di tengah sempit dan sesaknya kota itu. Kisah-kisah dari lobi hotel terang benderang hingga kolong jembatan yang temaram…

Mal Tutup Lebih Cepat

May 3, 2008

Dalam rangka Gerakan Nasional Hemat Energi, wakil presiden Indonesia, Yusuf Kalla, menghibau kepada lembaga pemerintah dan swasta untuk melakukan pemangkasan penggunaan energi, salah satunya adalah dengan menutup mal lebih cepat bagi para pengusaha mal. Dengan demikian, bisa menghemat energi cukup besar(di malam hari konon ada satu mall yang menghabiskan ratusan ribu watt listrik, bisa nerangin satu kecamatan tuh).

Sebagai seorang maller(tukang ke mall maksudnya), gw cukup khwatir jangan-jangan sebelum gw keluar dari mall lampunya keburu mati. Alhasil ntar gw terjebak di dalam mal. Tapi tenang aja, ini hanya khayalan lebay gw saja. Yah, jika pada akhirnya memang akan diterapkan peraturan bahwa mal harus tutup pukul sembilan malam, setidaknya gw bisa ambil hikmahnya. Gw tidak lagi keluyuran malam-malam dan bisa melakukan hal yang lebih produktif, misalnya browsing atau menulis blog.

Kliwir kliwiiiir, udara dingin berhembus dari AC ruang tengah menemani gw yang sedang menatap layar komputer. Gw teringat gemerlapnya lampu-lampu di mal dan dinginnya ruang bioskop. Tiba-tiba, gw juga ingat tagihan listrik..ah ternyata membengkak. Dan AC tetap kliwir kliwiiir…wong adem!

nobita dan pak guru

May 2, 2008

Jika gw nggak denger cerita bokap yang pagi tadi upacara Hardiknas di alun-alun kota, mungkin gw gak bakal ngeuh sama sekali tentang peringatan Hardiknas tahun ini(yang emang terasa kurang gregetnya). Apalagi hari ini gw bolos kuliah dan sepanjang hari guling-guling di kasur gak karuan. Gw baru bangun dari kasur saat adik gw yang Senin besok bakal ujian nasional SMP maksa gw—zaman sekarang adik lebih galak daripada kakak—mengajarkan matematika seakan-akan kakaknya jago matematika sedunia(padahal gw lulus SMA dengan nilai matematika pas-pasan).

Yah, bakat orang beda-beda sih. Mungkin adik gw(dan kakaknya) tidak berbakat dalam bidang matematika(dan juga bidang yang lain??). Namun, minimal adik gw harus ngerti dong hal-hal yang bersifat basic. Yang gw sesalkan, kok justru hal-hal basic tersebut belum dikuasai pada saat H-3 ujian. Jadi, selama ini adik gw kemana aja? Setau gw sih doi rajin pergi sekolah. Belajarnya juga rajin. Lalu dimana letak kesalahannya?

Gw jadi ingat cerita Doraemon. Dalam cerita Doraemon sering diceritakan Nobita yang ketakutan sewaktu-waktu Pak Guru akan datang ke rumah, mengunjungi ibunya, dan menceritakan perkembangan belajar Nobita(yang ternyata tidak kunjung berkembang). Dengan demikian, proses pembelajaran terpantau dengan baik. Guru dan orang tua sama-sama tau sampai dimana batas kemampuan siswa.

Gw kurang tahu, apakah sampai sekarang tradisi kunjungan guru tersebut masih ada di Jepang atau tidak. Yang jelas, di Jepang profesi guru sangat dihargai. Paska bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, gurulah yang pertama kali ditanyakan dan dicari oleh kaisar Jepang. Kaisar menanyakan jumlah guru yang tersisa, bukan malah harta benda atau senjata.

Pada tahun 1945 itulah Indonesia dan Jepang sama-sama memulai kehidupan baru. Jepang berusaha memulihkan diri paska keterpurukan yang diakibatkan kekalahannya dalam Perang Dunia II dan Indonesia mulai membangun negeri setelah berhasil mengumandangkan proklamasi. Setelah enam dasawarsa, hasilnya jauh berbeda. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kesejahteraan sosial, Indonesia berada jauh di belakang Jepang. Padahal, dua negara tersebut bertolak dari titik yang sama. Yang membedakan setelahnya adalah concern negara masing-masing terhadap dunia pendidikan.

Dunia pendidikan Indonesia punya Ki Hajar Dewantara, punya Hardiknas, punya Wajib Belajar Sembilan Tahun, punya anggaran 20% dari APBN, punya gedung-gedung sekolah yang mentereng, punya kurikulum yang terus diupgrade, dan punya segala jenis program pendidikan yang baik. Sementara, dunia pendidikan Jepang punya guru-guru yang berdedikasi tinggi dan para siswa yang menghormati guru-gurunya, seperti Nobita yang tetap menghormati Pak guru yang galak, yang berkeliling komplek mengingatkan satu-satu muridnya untuk belajar.

Untuk seluruh guru dan pelajar Indonesia, Selamat Hari Pendidikan Nasional !!!

pahlawan industri

May 2, 2008

Gw tinggal cukup jauh dari kawasan industri. Jarang sekali menemukan pabrik di daerah tempat tinggal gw, paling-paling pabrik tahu atau penggilingan beras. Penduduk sekitar rumah gw hampir tidak ada yang berprofesi sebagai buruh(labor).

Makanya, selama ini gw kurang aware dengan keberadaan kaum pekerja yang lebih dikenal dengan istilah buruh ini. Padahal, keberadaan mereka sangat berjasa bagi perindustrian. Mereka adalah para ujung tombak ekonomi dan pahlawan industri. Tanpa buruh, gw khawatir sekarang kita main internet sambil telanjang. Tanpa buruh, gw rasa sekarang kita sedang kekurangan bahan pangan. Dan tanpa buruh, mungkin saja ekonomi negara ini masih jauh terbelakang.

Setau gw(sebenarnya sih cuman sok tau aja), dalam ilmu mikroekonomi atau ekonomi internasional, buruh adalah aspek penting yang tidak pernah dilepaskan dari penghitungan biaya produksi dan aplikasi berbagai teori ekonomi. Ambil contoh teori klasik Adam Smith tentang Absolute Advantage atau teori David Ricardo tentang Comparative Advantage. Jumlah produk per jam kerja buruh dijadikan ukuran efektivitas produksi yang diperbandingkan. Sayangnya, walaupun menjadi variabel terpenting dalam kegiatan produksi suatu perusahaan, urusan perburuhan justru bukan jadi prioritas utama melainkan nomer kesekian-kesekian(ini yang gw denger dari para aktivis buruh).

Karena hanya menjadi prioritas nomer kesekian-kesekian itulah, banyak perusahan di Indonesia yang tidak mempedulikan hak-hak buruh semisal keselamatan kerja atau perjanjian kerja yang proporsional. Masih ada perusahaan yang tidak memberikan jamsostek bagi para pekerjanya. Jadi, kalau ada pekerja yang celaka ya celaka saja. Perusahaan tidak akan menanggunya. Lalu sekarang sedang nge-trend sistem kontrak dan outsourcing. Kalau perusahaan tidak membutuhkannya lagi ya tinggal pecat saja. Pesangon diberikan ala kadarnya.

Belum lagi permasalahan jam kerja. Setaun lalu gw pernah liat film dokumentasi yang bercerita tentang suatu pabrik pakaian barat merk terkenal yang mempekerjakan pekerja Indonesia dengan upah sangat murah. Padahal, para perja tersebut musti berdiri dan bekerja selama dua belas jam tanpa henti. Ironisnya, walaupun biaya tenaga kerja yang dikeluarkan perusahaan sangat murah pakaian bermerk mahal tersebut dijual di Eropa dengan harga ribuan dolar. Yups, itulah kapitalisme.

Dalam upaya merubuhkan kapitalisme dan menerobos kemarjinalan, tak sedikit keringat dan darah yang ditorehkan oleh kaum buruh. Di balik keringat dan darah itu sejarah bercerita, dunia perburuhan telah menjadi tonggak bagi berbagai macam peristiwa penting: Revolusi Prancis dan kelahiran sosialisme, undang-undang kemanusiaan, teori-teori ekonomi baru, hingga pergerakan di seluruh dunia.

Tetaplah semangat para pahlawan industri!!! Menuju globalisasi, mungkin tantangan dunia pekerja mungkin semakin berat. Pohon bernama kapitalisme itu akan semakin kokoh dan bercabang. Alih-alih melarikan diri, mau tidak mau kita musti mampu memanjatnya. Dan kita semua sama-sama berjuang. Tak ada apapun yang bisa menghalangi kita untuk mewujudkan derajat kehidupan yang lebih baik.

Selamat Hari Buruh Internasional.

Hari Buruh Internasional

May 1, 2008

Gw baru sadar kalau hari ini hari buruh internasional saat nonton cuplikan pilem ‘marsinah’ di tivi tadi pagi(beberapa hari ini lupa tanggal mlulu). Terus, pas lagi di mobil gw denger orasi anggota komisi sembilan DPR di radio tentang tuntutan buruh dan kebobrokan birokrasi yang merugikan buruh dan sebagainya dan sebagainya….(sampai-sampai si penyiar menyetop ibu dewan yang sangat bersemangat itu karena keterbatasan waktu).

Jujur aja, walo cukup pay attention dengan beritanya gw kurang paham latar belakang dan sejarah hari buruh. Makanya, barusan gw buka-buka wikipedia dan dapat sedikit ulasan tentang hari buruh internasional yang juga dikenal dengan istilah May Day ini.

Dari yang gw baca, May Day lahir sebagai puncak dari berbagai rentetan perjuangan para pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. 1 Mei tahun 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Banyak buruh yang tewas dalam aksi tersebut sehingga memicu reaksi negara-negara di seluruh dunia. Hingga akhirnya, pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:

Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day tersebut, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

sumber : wikipedia.org/wiki/Hari_Buruh