Archive for the ‘teri’ Category

..efek..

October 22, 2008

Apa yang gw rasa saat liburan panjang di tengah krisis ekonomi global? kurang lebih adalah perasaan tertekan.

Alkisah, semalam, sebelum tidur gw menonton dua film. Satu film kartun, satu film Brad Pitt(ganteng). Jikalau gw harus bermimpi saat tertidur maka seharusnya mimpi itu tidak lebih dari mimpi yang komikal, lucu, atau romantis dengan Brad Pitt sebagai pemeran pria utama. Hanya saja yang terjadi adalah gw bermimpi menjadi pemegang saham yang sangat sibuk(juga stress), gw jual beli saham, aaaah bahkan dalam mimpi yang samar-samar itu masih terngiang teriakan-teriakan gw dan istilah-istilah efek berseliweran : repurchased, treasury stock, dow jones, goreng-goreng!!!

Sesungguhnya di dunia nyata, gw tidak pernah menanamkan uang di saham manapun(juga tidak ada keluarga gw yang bermain saham). Gw bukan bagian dari Bakrie Brothers, atau Lehman Brothers, atau Merril Lynch, atau apapun yang mengharuskan gw bermimpi tentang jual beli efek.

Ok, agak sulit mengenyahkan dow jones, hang seng, nikkei, nasdaq dan teman-temannya dalam dunia bawah sadar gw dengan tayangan info pasar(saham dan uang) yang disiarkan setiap pagi dan sore di stasiun tivi yang satu, siang dan malam di stasiun tivi yang satunya lagi. Belum ditambah dengan berita tiap satu jam sekali dan dialog dialog formal panjang yang mengundang pengamat ekonomi paling pakar(apakah perasaan gw saja, tapi mendadak semua orang menjadi pakar ekonomi).

Bukan berarti sebelum krisis acara-acara tersebut tidak ada. Dulu ada. Hanya saja dalam kondisi yang sekarang mereka menjadi lebih dihayati. Menjadi lebih sering. Menjadi lebih penting(dan lebih punya rating?)

aaaah, betapa sinisnya gw. Semoga malam ini gw mimpi indah.

pitnah

August 31, 2008

Kata siapa orang sunda gak bisa bilang hurup ep? Orang Sunda gak bisa bilang hurup ep mah pitnah. Buktinya, gw bisa kok bilang ep atau jet dengan perpek. Yah, memang sih lidah ini kadang-kadang keseleo juga, mungkin karena sudah replek. Contohnya seperti kejadian beberapa hari yang lalu, gw dan seorang teman pergi ke sebuah warung untuk membeli minuman dingin, kebetulan pemilik warung tersebut orang sunda, lalu terjadilah percakapan sebagai berikut :

gw        : Teh, ada panta?

teteh 1 : Wah, sebentar Neng. Ada ngga yaah pantanya…

teteh 2 : Nyari apa?

gw       : panta, Teh! (dan gw pun tersadar kalau gw bilang “PANTA” , not “FANTA” ! Tidaaa!)

teteh 2 : oh gak ada Neng kalo panta mah (eh, sama aja), adanya juga koka kola sama seprit (olala, “SEPRIT”)

gw       : ya udah kalo gitu teh, makasih…

teteh 1 : sama-sama Neng

dan gw pun meleos pergi sambil senyum-senyum sendiri, setengah terkesima, setengah geli.

liburan tlah berakhir

July 1, 2008

Saat melihat selebrasi kemenangan Spanyol atas squad Jerman di pertandingan terakhir Euro 2008 dan kembang api yang menyala indah sebagai penutup acara megah itu, mau tidak mau gw sedih juga. Bukan karena gw pendukung tim Jerman yang mesti puas hanya jadi runner up, tetapi lebih seperti perasaan seorang turis di penghujung liburan yang terpaksa harus berakhir.

Yups, selama kurang lebih satu bulan masyarakat dunia, seperti gw dan beberapa tetangga kosan yang berteriak-teriak di pagi buta, dimanjakan oleh tontonan olahraga yang dikemas dengan kemasan industri modern (let say capitalism), sihir yang menghipnotis jutaan pasang mata agar tetap terjaga di tengah malam atau bahkan meninggalkan pekerjaan di negaranya demi melihat langsung laga tim kesayangan di Swiss dan Austria. Didatangkan dari sebagian besar penguasa peradaban masa kini, sihir itu mengajak dunia melupakan sejenak hal-hal yang penat dan beban-beban yang bersifat agregat…karena inilah saatnya bersenang-senang.

Toh pada akhirnya, kita tidak bisa terus-terusan bersenang-senang. Saat letupan terakhir dari kembang api yang menyala di atas stadion Ernst Happe-Wina padam, itulah pertanda bahwa liburan telah usai. Semua pun harus kembali ke dunia nyata dan melakukan berbagai hal yang masih harus diselesaikan oleh individu-individu yang membentuk peradaban ini. Hal-hal yang tidak bisa diselesaikan oleh sihir.

liburan tlah berakhir…

Dan dari hingar bingar kota Wina yang gemerlapan itu, kita kembali ke Gazza, ke Iran, ke Afghanistan, ke Somalia, ke Ethiopia, ke Myanmar, ke kolong-kolong jembatan Jakarta, dan ke sudut-sudut paling temaram, tempat-tempat yang tak pernah benar-benar berlibur…

afganismeu

June 23, 2008

Barusan gw ngebaca sebuah blog, kayanya sih yang punya bapak2.. Salah satu postingannya ngomongin tentang afgan. Hari gini, seorang bapak pun sempat mendengarkan dan mengomentari afgan…sah sah saja! Yang perlu digarisbawahi, diantara beberapa postingan terakhir di blog beliau, postingan tentang afgan yang paling banyak comment-nya(termasuk comment dari gw,he3)

Gw jadi ingat suatu hari beberapa bulan yang lalu pas lagi liat-liat cd di disc tarra. Waktu itu lagu ‘terima kasih cinta’ belum wara-wiri di radio ataupun tipi(ato gw-nya yang telat denger,dunno!). Gw ngeliat sebuah cd, cover-nya simple aja, ..malah gw sempat ngira itu cd penyanyi luar(at least malay ato s’poh lah). Ternyata CD lokal. Pas gw deketin CD-nya ke mata yang rabun siang dan senja ini, gw langsung nyamperin temen gw  sambil bawa CD itu dan spontang bilang: “Gw gak tau siapa dia, baru pertama liat, tapi seriusan ini nih tipe gw!” Lebay sih, tapi serius..waktu itu gw ngerasa cowo di cover CD itu ganteng banget–my type banget. Kalau love at the first sight itu benar ada, maka gw rasa ya itulah contohnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya gw liat juga single “terima kasih cinta” di televisi.  Menurut gw video klipnya aneh(sorry to say). Terus, gw juga kurang suka lagunya…waduh, orangnya boleh my type, tapi lagunya tidak. Terlepas dari itu, suara si afgan ini emang sexy, serak-serak banjir, berat gimanaaaa.. Dari sudut pandang industri(gw sotoy), suara afgan ini ialah komoditas utama: Main Product. Kegantengannya: Joint Product. Dan lagunya, sayang sekali, hanyalah by product…by product yang laris manis. Dan hidup itu ironi, toh ujung-ujungnya gw mengakui juga (walo dengan berat hati) kalau lagu afgan itu boleh juga…dan memakai juga ring back tone lagu Afgan: Sadis. (kebanyakan pulsa!)

Emang Sadis.

Gw kadang-kadang suka lihat acara tangga musik pagi-pagi di sebuah stasiun tivi. Sepengetahuan gw, Afgan udah datang ke acara itu tiga kali… Kalau orang waras sih bosen. Tapi, gw gak bosen tuh. Pembelaan gw, sah-sah aja kok nongkrongin brondong manis bersuara seksi yang pinter dan tajir. Dengan demikian, gw juga mengerti perasaan ratusan cewek yang datang ke show-show afgan, berteriak histeris, mendengar suaranya saja melayang, dan cemburu(padahal siapa elu?) pas tau afgan deket sama eva celia. Haha.

Emang Sadis.

Actually, logikanya…ada hal yang lebih penting(ok, penting itu relatif!) untuk dibicarakan oleh para gadis selain betapa manisnya afgan…ambil contoh:bagaimana caranya memperbanyak sumber-sumber energi alternatif selain minyak bumi? atau: tau ngga siiih ada aktivis ikan paus yang ditangkap di jepang? Tapi toh, bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan itu absurd. Sementara afgan adalah real, sosoknya nyata…setiap hari ia disuguhkan oleh media dengan cuma-cuma kepada ribuan gadis polos seperti gw. Bertolak belakang dengan informasi tentang situasi panas di jalur Giza, atau para pendukung kebebasan Aung San Su Kyi ditangkap lagi…yang kadang-kadang mendapatkannya sedikit sulit, bahkan mungkin harus membayar(buka internet or baca koran?)

Emang Sadis.

Yah setidaknya, dengan adanya afgan (dan acara2 musik itu) saat gw bangun pagi ada suara cowok seksi yang berat itu yang bisa gw kagumi tanpa harus repot-repot memilikinya. Santai saja. Nikmati suaranya seperti menikmati secangkir teh panas di sore hari, sampai akhirnya gw menyadari siapa yang benar-benar sadis dan harus ditangisi?

Pemuda Harapan Bangsa (part II)

May 30, 2008

Seperti apa gambaran pemuda harapan bangsa zaman sekarang? Anda ingin tahu? Baiklah, mari kita saksikan kegiatan seorang pemuda (sebenarnya pemudi-tapi sering ada yang meragukan) pada suatu hari. Demi kepentingan yang bersangkutan, sebut saja namanya Cantik(tentu saja bukan nama sebenarnya).

Semoga aktivitas harian Cantik tidak mewakili pemuda bangsa ini pada umumnya.

ini dia…

05.30

Kelopak mata Cantik begitu berat. Padahal, semalam ia sama sekali tidak bergadang. Tempat tidur spring bed palsu(serius, jerami sering nyembul keluar dari dalamnya) menjadi terlihat seperti spring bed king size hotel bintang lima. Dengan masih berbalut mukena akhirnya si Cantik berhasil luluh pada godaan spring bed palsu itu untuk kembali berbaring dengan santainya. Dalam hati menyalahkan syaitan yang konon banyak berkeliaran sehabis shubuh menggoda iman manusia yang senang bermalas-malasan.

06.30

Sehabis memaksakan diri keluar dari jeratan syaitan spring bed palsu, si Cantik mandi dan mulai mengerjakan tugas yang seharusnya dikumpulkan hari ini kepada ketua kelompok yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman kosnya… Tidak perlu khawatir tugasnya tidak selesai, statistik mengatakan si cantik mengerjakan delapan dari tujuh tugas secara deadline.

08.15

Si cantik pergi ke kampus dengan berat hati. Tentu saja karena masih teringat spring bed palsu yang menunggu di kamar kosnya yang berantakan. Selain itu, ia teringat tugasnya yang belum selesai.

09.00

Karena tidak kebagian tempat duduk di belakang, si cantik terpaksa harus duduk di depan. Dengan demikian, ia terpaksa harus memperhatikan pelajaran. Pertama, si cantik duduk di depan sehingga jika ia melamun atau mengobrol sedikit saja pasti ketahuan. Kedua, dosennya charming. Ketiga, si cantik memang sebenarnya ingin dapat ilmu yang bermanfaat dari kedatangannya ke kelas tersebut. Namun, banyak saja godaan yang menghadang. Seperti misalnya, teman wanita di sebelah kiri yang tak henti-henti mencubit pipi si cantik seraya berkata “ih, aku pengen cium kamu” dan teman wanita di sebelah kanan yang tak henti-henti memperagakan jurus-jurus silat. Mau tidak mau si cantik meladeni keduanya…dan kata-kata sang dosen charming alhasil hanya melintas di benaknya seperti angin dan berganti kata-kata “iiih, aku pengen cium kamuuuu”

11.00

Akhirnya kuliah selesai juga dan seperti biasa si cantik langsung melanjutkan perjalanan rutin setelah kuliah ke tempat makan yang tiada lain dan tiada bukan adalah ‘nasi padang’… Di perjalanan, kepada ketua kelompok yang tiada lain dan tiada bukan adalah teman kosnya, si cantik berkata jujur bahwa tugasnya belum selesai sehingga terpaksa menunda mengumpulkannya dan ketua kelompok(yang tiada lain tiada bukan adalah teman kosnya) pun mengiyakan dengan mudahnya(padahal kepada anggota lain bukan main galaknya). Inilah pembelajaran kolusi dan nepotisme kecil-kecilan.

13.00

Si cantik melaksanakan hobinya yang tiada lain tiada bukan adalah : Mencuci. Cucian yang bertumpuk(padahal sehari yang lalu juga mencuci) dicucinya dengan riang gembira. Sementara teman kosnya di kamar yang berbeda juga sedang mencuci dengan tidak kalah riangnya. Statistik mengatakan, si cantik dan teman-teman kosnya lebih bersemangat mencuci daripada mengerjakan tugas kuliah.

17.00

Si cantik baru bangun tidur siang setelah tertidur dengan lelapnya di atas spring bed palsu lebih dari dua jam.

19.00

Si cantik pergi membeli makan malam. Si cantik tidak pernah berpikir melakukan diet(kecuali di akhir bulan). Dan si cantik bukan vegetarian.

21.00

Si cantik pun pergi tidur.

Begitulah kegiatan harian seorang pemuda(ok, pemudi actually) bernama cantik yang sama sekali tidak istimewa. Semoga aktivitas pemuda bangsa yang lain sehari-harinya lebih dari sekadar makan, tidur, dan mencuci.

pemuda harapan bangsa (part I)

May 27, 2008

Tepat seminggu yang lalu, dalam rangka peringatan seratus tahun kebangkitan nasional, di seluruh televisi disiarkan sebuah acara kolosal dan megah langsung dari Gelora Bung Karno.

Gw menyadari betapa acara ini berada pada momen yang kurang pas mengingat kita sedang menghadapi berbagai masalah baik yang bersifat agregat maupun individual, seperti; kenaikan harga bahan bakar, demonstrasi di mana-mana, pertumbuhan ekonomi yang buruk, gizi buruk, naiknya harga nasi warteg-sementara uang saku tidak, dan perlunya restrukturisasi utang kepada teman kos. Namun, gw tetap stand menonton acara ini dengan semangat empat lima bersama teman-teman kosan tercinta. (dan ada satu teman yang semangat menonton karena marching band kampus pacarnya tampil)

Gw udah lama gak liat acara yang bersifat nasional sebesar ini… Mulai dari tari saman sampai parade taruna yang gagah tampil menawan. Makanya gw dkk excited saat menontonnya(sama excited-nya dengan Ibu Ani Yudhoyono yang sesekali tersenyum senang di sela-sela acara). Kita berteriak kagum saat para penari membentuk formasi pulau-pulau, gw berteriak saat muncul rampak gendang plus sisingaan dari kampung kelahiran gw(subang subang!! orang masuk tv dan disebutkan maudy koesnadi), dan teman kosan gw bernostalgia melihat taruna yang ganteng nan gagah(konon mirip mantan pacarnya).

Gw, temen-temen kos gw, taruna-taruna, marching band, para penari saman, anda, kita semua pemuda harapan bangsa. Kira-kira sepuluh tahun lagi usia kita akan sama dengan Ki Hadjar Dewantara saat mendirikan Budi Oetomo bersama kawan-kawannya. ya begitulah….

Tapi, seperti apakah gw yang berteriak histeris saat melihat taruna ganteng berparade sepuluh tahun mendatang???

Hotaru’s Light (asal usul ikan kering)

May 3, 2008

Beberapa minggu yang lalu gw beli sebuah komik dengan judul Hotaru’s Light. Kalo gak salah versi dorama dari komik ini juga ada dengan judul Hotaru No Hikari. Hotaru’s Light bisa dibilang komik dewasa(jangan ngeres dulu, maksud gw isi komiknya menceritakan kehidupan orang dewasa). Buat yang bosen dengan tema komik yang hampir seragam, Hotaru’s Light bisa jadi alternatif bacaan.

Sebenernya ide cerita komik ini simpel aja, malah cenderung klise. Ada seorang karyawati bernama Hotaru. Ia berusia hampir tiga puluh tahun, jomblo, selalu berusaha tampil sempurna di kantor, tapi saat sendirian di rumah ia kembali menjelma menjadi dirinya yang asli; berantakan dan acak-acakan. Konflik dimulai saat kepala bagiannya di kantor mengklaim rumah tempat tinggal Hotaru sebagai rumahnya. Usut punya usut, bosnya tersebut adalah anak pemilik rumah tempat Hotaru tinggal. Akhirnya mereka hidup bersama. Hotaru yang pemalas dan berantakan terpaksa berbagi tempat tinggal dengan bosnya yang rapi dan perfeksionis.

Gw baru baca sampai volume tiga. Gak sabar untuk baca lanjutannya. Entah kenapa, gw suka aja komik ini. Ngeliat Hotaru yang malas-malasan di rumah sambil pakai kaus kaki bolong seperti melihat cerminan diri sendiri. Nah, di Jepang para wanita seperti Hotaru itu disebut Ikan Kering. He3, walau gak separah Hotaru, gw rasa gw punya gejala-gejala potensial menjadi ikan kering…

Jika mau mengetahui gejala-gejala ikan kering, silakan baca saja Hotaru’s Light (atau tonton doramanya). Setelah tahu apa saja gejala-gejalanya mungkin bisa diobati sebelum terlambat. Namun, jujur aja…gw cukup senang dengan kehidupan ikan kering karena kadang gw ngerasa lebih menikmati nonton tv di rumah sambil tidur-tiduran dibandingkan mesti datang ke rapat keluarga mahasiswa dengan dandanan formal. Apa jangan-jangan gw makhluk soliter? Cita-cita gw, setelah lulus nanti gw pengen ngekos atau ngontrak rumah sendiri dan sebebas-bebasnya berada di rumah;ngemil di depan tv pakai celana bolong dengan rambut yang belum keramas seminggu.

Sssst,,,setelah baca ini mohon jangan bilang siapa-siapa!!