Archive for the ‘cucut’ Category

The World With Nine Million Dreams

June 22, 2009

Beberapa hari yang lalu gw pulang ke kampung halaman gw di sebuah desa di kaki gunung ratusan kilometer dari Mal yang gemerlap dan lampu disko yang berkerlap-kerlip di malam hari. Pada malam terakhir, gw keluar rumah menuju sebuah tanah lapang untuk melihat anak-anak kecil pentas kenaikan kelas sekolah agama. Dan apa yang gw lihat saat menengadah memandang angkasa? Bintang-bintang. Ribuan bintang-bintang.

Gw pun duduk di tanah lapang sambil memandang taburan bintang dengan dekorasi gunung dan hamparan sawah. Anak-anak kecil bernyanyi tanpa nada di atas panggung. Memang bukan konser Javamusikindo atau pentas musik jazz. Memang bukan. Pedagang-pedagang kecil berjualan disekeliling lapangan. Memang bukan stand-stand mewah PRJ. Memang bukan. Perwakilan Kepala Desa datang memberi sambutan. Memang bukan calon presiden yang datang. Memang bukan.

Dan dengan suatu cara, gw mengingat Jakarta.

Jakarta.Kapan terakhir kali kita melihat bintang di angkasanya?

Bintang-bintang yang terhalang atap genteng tetangga. Bintang-bintang yang diganti lampu neon dan lampu disko. Bintang-bintang yang bersembunyi di balik pencakar langit.

Jakarta. Dimana kita tinggal di dalamnya?

Mungkin di suatu rumah di dalam gang sempit dimana atap-atapnya saling berdempetan. Mungkin di suatu penthouse apartemen mahal yang menghadap pencakar langit. Mungkin di area perumahan mewah yang mana tetangga kita adalah artis(atau calon presiden). Mungkin juga di suatu tempat dimana saja yang beratap langit dan berdinding kebisuan.

Jakarta. Kapan terakhir kali kita melihat taburan bintang di angkasanya?

Sudah Lupa.

-22Juni09-untuk dunia dengan sembilan juta mimpi di dalamnya-

yang campuranlah yang tulen…

January 24, 2009

Gw bukan penggemar Obama(setidaknya belum). Gw gak pernah kenal apalagi pernah jadi saudaranya. Tapi setidaknya gw punya sedikit kesamaan(sedikit banget malah).

Gw tidak terlalu putih(untuk tidak bilang ’hitam’ hehe). Makanya agak senang saat Obama terpilih sebagai presiden. He’s not white. Horray, akhirnya ada juga orang kulit hitam jadi presiden Amerika. Temen-temen yang suka ngatain gw ‘item’, watchout, suatu saat gw bakal jadi presiden juga!

(Hiyaaaa gw hanya bercanda…..)

But seriously, I’m proud of black people becoming a president. Ini adalah sebuah pencapaian. Untuk mencapai titik ini, telah dibutuhkan penantian panjang selama ratusan ribu malam yang kelam. Bukan hanya penuh air mata, tetapi juga darah.

Bangsa kulit hitam masuk ke Amerika sebagai imigran dari benua Afrika. Ada juga yang sebagian diangkut khusus untuk dijadikan budak di tanah-tanah pertanian dan peternakan sekitar tahun 1600-1800an. Hanya sedikit diantara bangsa kulit hitam saat itu yang mengenyam pendidikan dan mempunyai kebebasan karena selebihnya adalah kaum budak yang berkasta rendah dan nyawanya halal untuk dihabisi.

Pada tahun 1865 Abraham Lincoln menghapuskan perbudakan. Namun, tidak berarti penghapusan diskriminasi ras terhadap bangsa kulit hitam. Mereka tetap kaum yang terpinggirkan dan terkotakan.

Itulah rasialisme, penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Kaum negro dibenci dan dikucilkan. Sebagian besar dari mereka hanya memperoleh peran kelas bawah dalam sistem sosial. Tergambar dalam peran-peran di film-film Hollywood dimana kulit hitam adalah si ketua gengster, bandar narkoba, rapper jalanan, atau pembantu rumah tangga.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pendewasaan sebuah bangsa, serta perjuangan bangsa kulit hitam itu sendiri yang memperjuangkan hak-hak mereka, penyakit itu mulai sembuh perlahan. Puncaknya adalah 20 Januari kemarin saat jutaan penduduk Amerika menyaksikan langsung dengan bangga berdirinya sesosok afro-america di podium mengucap sumpahnya sebagai presiden Amerika. Mengharukan.

Mari ucapkan selamat datang terhadap perubahan, dimana hitam dan putih tak lagi terasa perbedaannya.

Gw pun jadi inget kata-kata seorang kolumnis, “yang campuranlah justru yang tulen”…Mungkin maksudnya jangan terlalu mempermasalahkan asal usul, warna kulit, suku, negara, dan segalanya jika itu hanya memperburuk perbedaan. Dan rakyat Amerika telah membuktikannya.