Archive for April, 2009

Jurnal Liburan Ikan Kering #3 *&f*(#^*#***!

April 18, 2009

Selamat Datang di Hari Terakhir Liburan Ikan Kering !

Mari gw ingat-ingat kembali resolusi si ikan kering di awal liburan; belajar fotografi, detoksifikasi tubuh, belajar masak makanan Cina(yeah yang bener aja?), punya pacar, yayayayaaaa……

Lalu mari kita lihat hasilnya!

boro2 jago fotografi, buat dipoto aja muka gw gak fotografis gara gara jerawat numpang nempel di pipi kanan kiri gw yang chubby dan lucu ini. Gimana mau sehat, badan melar gak pernah olahraga. Boro2 masak masakan cina, bikin nasi goreng aja rasanya ajaib. Punya pacar? yang bener aja! Gw masih JOMBLO! jomblo. tengkyu….

Ok, setidaknya masih ada hari terakhir liburan ikan kering yang bisa diharapkan. Mari kita bayangkan jalan-jalan akhir pekan di tepi pantai sambil makan es krim vanilla lalu malam harinya dinner dengan cowok ganteng yang gw ajak kenalan di pantai.

namun FAKTANYA: di hari terakhir liburan gw terjebak di rumah, belum mandi(untung juga gak dikerubutin lalat), gatel-gatel(gak tau karna alergi atau gara2 belum mandi), bosan, dan sedih(sedih karna liburan gw berakhir!tidaaaaak!)….

Gw pun mencari penghiburan dengan menonton televisi sambil duduk memegang remote tv secara mengenaskan di sudut sofa. Nah, karena gw gak suka sinetron aneh di Indosiar atau acara reality show cinta2an(yang juga gak kalah aneh) gw memilih menonton acara musik(maksud gw acara musik ga aneh2 amat kan?). Namun, o ow…channel 1: kangen band nyanyi launching album ke-3, channel 2 :hijau daun, channel 1 lagi : masih kangen band, channel 2 : radja!

daramdam daramdam…

Begini, gw bukan ahli musik apalagi kritikus. Musikalitas gw payah. Gw buta nada. Selera musik gw biasa aja, sesuai pasar lah, gw bukan pemuja Beatles atau penggemar Rolling Stones, gw gak tau band-band indie, dan gw gak apal lagu-lagunya Bruce Springsteen. Gw gak ngerti jazz(sama seperti gw gak ngerti musik Kangen Band–tapi gw tidak membenci mereka, swear) dan gw gak bisa ngebedain yang mana yang acid yang mana yang blues… Tapi yah kalo diberi pilihan kangen band atau hijau daun, kangen band atau radja entah mengapa gw lebih memilih : matikan saja tipinya!

Setidaknya mood gw tidak bertambah buruk.

Sekali lagi, gw tidak membenci Kangen Band, atau pop melayu, atau lagu-lagu cinta, atau apalah…….

hanya saja….

ini hari Libur terakhir gw dan gw lebih membutuhkan lebih dari sekadar suara Andika atau lagu-lagu ciptaan Dodi.

**&#&Y(*&#))*_*Y^$@U(E#U!

tengkyu…

Jurnal Liburan Ikan Kering #2 Politics Talk

April 7, 2009

Gw bukan orang yang anti politik. Gw rasa gw cukup suka politik (terlepas dari segala omong kosong dan kebusukannya—ngemeng2 soal busuk libur panjang tanpa aktivitas bikin gw membusuk juga n_n). Gw hanya kadang sedikit malu dan ragu berbagi sudut pandang politik gw.

Bercerita tentang kehidupan cinta, gosip, humor garing, atau apa saja tidak sesulit berbicara politik. Berbicara politik ibaratnya melepas pakaian dan harus siap ditelanjangi. Salah-salah bisa dipermalukan. Gw mungkin saja hobi mengolok-ngolok Dewi Persik, menghina Kangen Band, mentertawakan Syaipul Jamil, tetapi sebisa mungkin gw menghindari menghina-dina politikus (kecuali kalau emang tu politikus nyebelin banget kadang kelepasan juga).

Nah, kemarin sore akhirnya gw dapat juga undangan memilih untuk Pemilu Legislatif Kamis nanti (nama gw salah ditulis: kurang satu ‘S’, nama nyokap gw nambah satu ‘R’. Tapi doesn’t matter). Uuuuuh, mau ga mau jadi mupeng ngomongin politik juga.

Menurut petuah Wimar Witoelar, katanya kita golput saja sampai hari H pemilihan, sampai datang ke TPS dan mencontreng pilihan kita. Somehow, gw setuju juga… Namun, bukan berarti hingga sejauh ini kita gak punya calon pilihan. Untuk itulah gunanya kampanye, iklan, publikasi, spanduk, poster, baliho, kaos parpol, jilbab, sembako gratis, dan amplop isi duit(hehehe….).

Namun Anda masih bingung? Hmm, gw punya beberapa hal yang bisa kita perhatikan dalam rangka pilih-memilih ini :

1. Memilih dengan riset dan keilmuan

    Sebagai pemilih yang cerdas, yang paling tepat adalah mengadakan riset dan analisis yang akurat terhadap Partai Politik beserta calon-calon legislatifnya. Jangan langsung percaya saja dengan apa yang diumbar di televisi atau kampanye terbuka. Ambil contoh, ada politikus yang mengungkap fakta berupa angka-angka dengan meyakinkan: tujuh puluh triliyun bla bla bla…. Jangan langsung percaya, lihat dulu datanya. Sejauh apa kebenarannya. Kalaupun benar, lihat lagi dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang yang lebih nyekul, educated, bukan asal jeplak aja. Ada juga politikus yang membanggakan keberhasilannya dalam memimpin sejauh ini. Cek lagi datanya, tetapkan indikator-indikator, lalu buat perbandingan sebelum dan setelah dia memimpin. Nah, untuk kasus politikus yang tidak konsisten, dulu ngomong A sekarang ngomong B, tidak perlu diriset karena kemungkinan besar isu-isu yang mereka umbar emang ngasal. Jangan lupa juga untuk meriset calon-calon anggota legislatif. Pastikan sosok pilihan kita bukan pedofil atau maniak.


    2. Memilih dengan Hati

      Melakukan riset dan analisis dirasa berlebihan dan rumit? Kalau begitu kenapa tidak mengandalkan hati nurani saja? Konon, nurani tidak pernah menipu(tidak seperti angka-angka yang bisa dimanipulasi). Feeling atau suara hati bahkan seringkali bisa membimbing kita menemukan jawaban yang sedang dicari (tidak berlaku bagi mahasiswa berfeeling buruk yang selalu salah menebak jawaban saat ujian)


      3. Memilih setelah Shalat Istikharah

        Tidak percaya riset? Tidak percaya hati nurani? Tapi tentu saja kita masih percaya Tuhan….


        4. Memilih Saudara atau Kerabat

          Terlalu malas melakukan riset? Males beribadah? Tidak punya hati nurani? Tapi punya saudara, teman, atau kenalan yang nyaleg? Gak perlu repot-repot, langsung pilih mereka saja…(minimal nanti kita makan gratis pas mereka syukuran)


          5. Memilih Artis atau Orang Terkenal

            Gw belum menemukan alasan untuk melarang artis jadi caleg, lebih-lebih kalau artis itu cantik, ganteng, pintar, sholeh, kaya, baik hati, dan tidak sombong. Minimal jika artis itu tajir, gak nafsu lagi sama yang namanya suap atau korupsi.

            Oleh karena itu, jika suka komedi, pilih saja pelawak favorit kita. Jika suka sinetron, pilih artis sinetron saja. Jika suka klenik dan ilmu magis, bisa pilih dukun(tau kan siapa paranormal yang nyaleg?)…

            Jika suka dangdut, dateng aja ke kondangan(berlaku di daerah pantura dan sekitarnya)


            Nah, dijamin pasti makin bingung!!

            Jurnal Liburan Ikan Kering #1 Perjalanan….

            April 6, 2009

            Seperti orang-orang bilang, banyak melakukan perjalanan dapat memberikan pelajaran hidup dan ilmu menjadi bijaksana.

            Sepertinya benar juga.
            Gw jarang ke mana-mana.
            Gw tidak bijaksana.
            Cocok.

            Bisa dibilang gw takut keluar dari zona nyaman gw yang sempit….
            Diajak naek gunung : Takut keguling
            Diajak ke laut : Takut Kelelep(kaga jago berenang)
            Diajak masuk gua : (belom pernah ada yang ngajak)
            Diajak ke Sumatera Barat : takut naik pesawat
            Diajak ke luar negeri : gak punya paspor, gak punya duit
            Diajak tidur : tergantung siapa yang ngajak, kalo cewek baru hayu!!!

            Yah, supaya ga jadi katak dalam tempurung terus-terusan, beberapa hari yang lalu akhirnya gw jalan-jalan juga. Jangan bayangkan jalan-jalan gw seperti backpacker yang keren-keren itu(ok, gw bawa backpack sih dan gw emang keren). Jalan-jalan versi gw kurang lebih seperti ini: naek kereta bisnis, numpang di rumah teman, dikasih sarapan enak setiap harinya, diantar-antar naek mobil kalau mau kemana-mana, ditraktir makan malam, dan kalap belanja kayak tante-tante. Hahaha….

            Gw menyebut jalan-jalan ini sebagai wisata sosio-budaya. Don’t think it’s only visiting Prambanan Temple, looking Borobudur, or something like that… Wisata sosio-budaya adalah tentang segala-galanya, bahkan ketika kita shopping atau wisata kuliner. Mengagumi suatu produk, memilih, menawar(dimana gw serahkan kepada guide gw yang ngerti bahasanya), dan membelinya, semua mengandung makna(haha, pembelaan shopaholic doang sih). Begitu juga pas wisata kuliner; makan sate sambil lesehan di sisi jalan kota Bantul malam hari, makan timlo di kota Solo, minum teh manis, dan sarapan gudeg. Eksotis (yang ini pembelaan si tukang makan).

            Is it fun? Absolutely. Gak ada alasan buat ngga fun…. Dan juga ga ada alasan buat ga dapet pelajaran apa-apa. Dengan suatu cara, I think I got something from this journey. Sesuatu yang tidak akan ditemukan jika kita tidak melakukan perjalanan. Sesuatu yang hanya akan ditemukan jika kita pergi ke tempat itu, menghirup udaranya, menjadi bagian dari kehidupannya, melihat mataharinya-awannya-langitnya-apakah sama, dan menghayati setiap pergerakan kecil di sekeliling.

            Tahukah? Ada Tempat-tempat yang selalu membuat kita ingin kembali ke sana lagi. Ada tempat-tempat yang selalu membuat rindu. Bahkan saat kita kembali di rumah…

            Dan tahukah? Gw memang belum jadi bijaksana. Namun, setelah ini gw tidak akan berhenti melakukan perjalanan.

            (Terima kasih banyak untuk tata dan keluarga)