Archive for January, 2009

yang campuranlah yang tulen…

January 24, 2009

Gw bukan penggemar Obama(setidaknya belum). Gw gak pernah kenal apalagi pernah jadi saudaranya. Tapi setidaknya gw punya sedikit kesamaan(sedikit banget malah).

Gw tidak terlalu putih(untuk tidak bilang ’hitam’ hehe). Makanya agak senang saat Obama terpilih sebagai presiden. He’s not white. Horray, akhirnya ada juga orang kulit hitam jadi presiden Amerika. Temen-temen yang suka ngatain gw ‘item’, watchout, suatu saat gw bakal jadi presiden juga!

(Hiyaaaa gw hanya bercanda…..)

But seriously, I’m proud of black people becoming a president. Ini adalah sebuah pencapaian. Untuk mencapai titik ini, telah dibutuhkan penantian panjang selama ratusan ribu malam yang kelam. Bukan hanya penuh air mata, tetapi juga darah.

Bangsa kulit hitam masuk ke Amerika sebagai imigran dari benua Afrika. Ada juga yang sebagian diangkut khusus untuk dijadikan budak di tanah-tanah pertanian dan peternakan sekitar tahun 1600-1800an. Hanya sedikit diantara bangsa kulit hitam saat itu yang mengenyam pendidikan dan mempunyai kebebasan karena selebihnya adalah kaum budak yang berkasta rendah dan nyawanya halal untuk dihabisi.

Pada tahun 1865 Abraham Lincoln menghapuskan perbudakan. Namun, tidak berarti penghapusan diskriminasi ras terhadap bangsa kulit hitam. Mereka tetap kaum yang terpinggirkan dan terkotakan.

Itulah rasialisme, penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Kaum negro dibenci dan dikucilkan. Sebagian besar dari mereka hanya memperoleh peran kelas bawah dalam sistem sosial. Tergambar dalam peran-peran di film-film Hollywood dimana kulit hitam adalah si ketua gengster, bandar narkoba, rapper jalanan, atau pembantu rumah tangga.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pendewasaan sebuah bangsa, serta perjuangan bangsa kulit hitam itu sendiri yang memperjuangkan hak-hak mereka, penyakit itu mulai sembuh perlahan. Puncaknya adalah 20 Januari kemarin saat jutaan penduduk Amerika menyaksikan langsung dengan bangga berdirinya sesosok afro-america di podium mengucap sumpahnya sebagai presiden Amerika. Mengharukan.

Mari ucapkan selamat datang terhadap perubahan, dimana hitam dan putih tak lagi terasa perbedaannya.

Gw pun jadi inget kata-kata seorang kolumnis, “yang campuranlah justru yang tulen”…Mungkin maksudnya jangan terlalu mempermasalahkan asal usul, warna kulit, suku, negara, dan segalanya jika itu hanya memperburuk perbedaan. Dan rakyat Amerika telah membuktikannya.

Superpower Superhero

January 24, 2009

Tidak seperti sebagian rakyat Indonesia yang tumbuh dewasa ditemani dengan cerita-cerita rakyat, epik mahabarata, komik Wiro Sableng, atau kepahlawanan Gatot Kaca, sebagian besar rakyat Amerika Serikat dewasa bersama komik-komik superhero yang kuat dan serba bisa. Spiderman, Batman, Fantastic Four, Superman, dan teman-temannya di DC komik atau Marvel Universe adalah sahabat pembela kebenaran serta pemusnah kejahatan idola rakyat Amerika. Mereka adalah pahlawan Amerika yang hidup selamanya dalam fantasi dan mimpi siapa saja yang mencintai imajinasi. Maka tolong sebut satu saja superhero bisa terbang yang berkewarganegaraan Inggris(atau Jerman) dan kita akan kesulitan. Karena superduperhero itu hanya milik Amerika.

Tentu saja fantasi dan mimpi hanya hidup di dalam balon-balon sel abu-abu di setiap kepala. Pada masa sekarang superhero dunia nyata tak pernah ada, seperti halnya perdamaian, kemusnahan kejahatan, dan penegakan keadilan tak pernah terwujud di sudut manapun di dunia dimana mutan dan jubah terbang hanya ada di film produksi Warner Bross. Oleh karena itulah manusia tak pernah berhenti mencari sosok yang paling bisa mendekati superhero idolanya. Sosok yang bisa memenuhi harapan dan mimpi-mimpi, mewujudkan perdamaian keadilan, serta mengisi lubang di hati. Ia bisa saja guru, anggota DPR, artis-artis Hollywood, atau pemimpin spiritual. Dan ia bisa juga seorang presiden.

Melalui proses pencarian yang panjang dan melelahkan, kini rakyat Amerika mengklaim telah menemukan model nyata yang bisa mendekati sosok superhero impian mereka. Bukan mutan laba-laba culun seperti Peter Parker atau pengusaha kaya raya tajir mampus ala Bruce Wayne, tetapi ia telah membuat maskara Oprah Winfrey luntur karena air mata dan malah mungkin Bono U2 berkaca-kaca di balik kaca matanya.

Action figure superhero baru Amerika ini dijual di toko-toko mainan. Sosoknya dibuat komik oleh Marvels. Jutaan orang memadati Washington DC untuk hadir di acara inagurasinya. Pidatonya riuh ditepuki kekaguman. Stasiun televisi tak berhenti membahasnya. Rakyat Amerika mencintainya. Dan mungkin mesti hanya sesaat, kita semua merasa lega. Di gerbang dunia mimpi ini semua orang dibenarkan sedikit bereuforia dan menghirup aroma pesta.

Namun, tentu saja segera setelah pesta ini kita harus meninggalkan dunia mimpi sama sekali. Kita musti kembali ke dunia nyata dimana tak ada mutan ataupun jubah terbang. Ini adalah dunia nyata dengan perang-perang berkepanjangan, bayi-bayi kelaparan, dan remaja tusuk-tusukan di perempatan jalan. Ini dunia dimana indeks saham hari esok bisa membuatmu kehilangan pekerjaan menjadi gelandangan. Tak bisa berharap banyak di dunia nyata, termasuk terhadap sang superhero idola. Banyak permasalahan yang tak bisa diselesaikan hanya oleh mimpi-mimpi dan imajinasi. Dan sebagai manusia biasa, sang superhero kita harus berjuang keras menghadapi kenyataan seraya mewujudkan harapan setiap orang. Entah apakah ia akan terus bertahan atau justru sang superhero akan segera menyerah tuk menghilang di balik kegelapan malam lalu tak pernah kembali.

Mari lihat nanti…

sifat khas…

January 24, 2009

Beberapa sifat khas sebagian besar Manusia Indonesia :

Ramah

Sungguh, ini bukan karena sempel manusia Indonesia yang ramah adalah diri gw sendiri :) (serius, I think I’m friendly enough, hahaha). In fact, selama beratus tahun kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Keramahan inilah konon yang disalahgunakan bangsa penjajah tempo dulu untuk menjajah kita. Namun, gak ada bukti empirisnya kan kalo kita jadi bangsa yang jutek kita gak bakal dijajah? So, maybe being friendly is right choice ever after.

Sungkan

Sungkan itu sifat turunan ramah, tapi lebih sering bikin susah. Udah mendarah daging di kebanyakan manusia Indonesia. Dari zaman lisung alu sampe zaman digital ini, banyak di antara kita yang masih suka sungkan: sungkan nolak duit hasil korupsi, sungkan nolak ajakan teman untuk kolusi, atau sungkan ngelaporin kejahatan bos sendiri.

Memiliki ikatan kekerabatan yang tinggi

Kalau orang Indonessia bertamu ke rumah suami dari adik ipar anak perempuan sepupu kakeknya yang sekarang jadi pejabat di ibukota, pas ditanya satpam:”Anda siapa?” pasti ia jawab: ”Saudaranya”. Atau saat tetangga kakak ipar adik tiri kita jadi artis muncul di tivi kita bilang:”Itu masih saudaraku lho!”. Jelas ini disebabkan adanya ikatan kekerabatan yang tinggi. Tapi anehnya, kalau ada anak adik ibu kita masuk penjara ketika ditanya tetangga:”Itu sepupumu kan?” biasanya kita pura-pura gak dengar.

Memiliki ikatan batin yang kuat dengan masa lalu.

“Dulu aku ini pas jadi kepala kantor di Manado bla bla bla blaaaaa……”
”Dulu waktu gw kuliah di Amerika gw begini lho la la lalaalaalaaaa….”

“Kamu tahu kan dulu bapakmu bekas napi….”

”Kakek lo tuh dulu PKI makanya lo tidak bisa begini begitu …”

“Dulu aku mencintainya ya ya ya yaaaa”

Romantisme tinggi

Barrack Obama hanya tinggal lima tahun di Indonesia. Tak ada darah Indonesia mengalir dalam dirinya. Tapi karena romantismelah seakan ada ikatan batin kuat di antara Indonesia dengan Obama, apalagi dulu yang pernah dekat atau sekadar kenal…tiba-tiba mereka muncul di televisi bercerita itu ini seakan-akan sahabat atau kerabat yang paling mengerti. Sangat Romantis.

Tidak terlalu serius

Karena tidak terlalu serius, janganlah menganggap tulisan gw secara serius. It’s just for fun. Tapi, kalo bisa jadi sedikit bahan instrospeksi, ya syukurlah… hehe :)