Archive for October, 2008

..efek..

October 22, 2008

Apa yang gw rasa saat liburan panjang di tengah krisis ekonomi global? kurang lebih adalah perasaan tertekan.

Alkisah, semalam, sebelum tidur gw menonton dua film. Satu film kartun, satu film Brad Pitt(ganteng). Jikalau gw harus bermimpi saat tertidur maka seharusnya mimpi itu tidak lebih dari mimpi yang komikal, lucu, atau romantis dengan Brad Pitt sebagai pemeran pria utama. Hanya saja yang terjadi adalah gw bermimpi menjadi pemegang saham yang sangat sibuk(juga stress), gw jual beli saham, aaaah bahkan dalam mimpi yang samar-samar itu masih terngiang teriakan-teriakan gw dan istilah-istilah efek berseliweran : repurchased, treasury stock, dow jones, goreng-goreng!!!

Sesungguhnya di dunia nyata, gw tidak pernah menanamkan uang di saham manapun(juga tidak ada keluarga gw yang bermain saham). Gw bukan bagian dari Bakrie Brothers, atau Lehman Brothers, atau Merril Lynch, atau apapun yang mengharuskan gw bermimpi tentang jual beli efek.

Ok, agak sulit mengenyahkan dow jones, hang seng, nikkei, nasdaq dan teman-temannya dalam dunia bawah sadar gw dengan tayangan info pasar(saham dan uang) yang disiarkan setiap pagi dan sore di stasiun tivi yang satu, siang dan malam di stasiun tivi yang satunya lagi. Belum ditambah dengan berita tiap satu jam sekali dan dialog dialog formal panjang yang mengundang pengamat ekonomi paling pakar(apakah perasaan gw saja, tapi mendadak semua orang menjadi pakar ekonomi).

Bukan berarti sebelum krisis acara-acara tersebut tidak ada. Dulu ada. Hanya saja dalam kondisi yang sekarang mereka menjadi lebih dihayati. Menjadi lebih sering. Menjadi lebih penting(dan lebih punya rating?)

aaaah, betapa sinisnya gw. Semoga malam ini gw mimpi indah.

sebuah nama sebuah cerita : peterpan

October 20, 2008

Salahkan gw yang terlalu sentimentil, melankolis, romantis, atau apapun itu. Yang jelas, setelah menonton acara konser tunggal terakhir peterpan di televisi malam kemarin, sikap sentimentil gw bertambah-tambah. Ok, mungkin konser yang dimaksud sama sekali bukan seperti konser tunggal dimana ia menjadi sangat ekslusif, digelar minimal di tennis indoor senayan dengan tiket sejutaan, dan tidak disiarkan televisi secara live. Konser itu hanya sebuah konser biasa untuk televisi dengan durasi iklan yang lumayan banyak dan tidak lebih dari usaha mayor label untuk lebih mendulang banyak uang dari sebuah band bernama peterpan lewat cerita perpisahan yang (terlalu)didramatisir. Dan hal tersebut mejadi sangat mencolok dengan kehadiran bintang tamu di konser itu yang tiada lain adalah frontman-frontman band yang ada di bawah naungan perusahaan rekaman yang sama. Oh, itulah industri.

Namun, jika salah satu tujuan mereka membuat konser itu adalah untuk mengaduk-ngaduk perasaan atau membawa gw ke masa lalu, mereka berhasil.

Enam atau tujuh tahun lalu gw menonton peterpan secara live untuk pertama kali di kampung halaman gw. Saat itu mereka hanya sebuah band yang single-nya terabung dalam sebuah album kompilasi. Dalam konser enam tujuh tahun lalu itu hanya ada “Mimpi yang Sempurna”(tentu kita tidak akan melupakan “Mimpi yang Sempurna”), selebihnya adalah lagu-lagu band lain. Gw masih ingat, Ariel melepas kausnya dan menyanyikan lagu Incubus. Aaaah, itu masa lalu.

Kemudian dalam hitungan setahun dua tahun, peterpan berhasil mewujudkan mimpi menjadi band yang sempurna. Penjualan album yang fantastis. Konser yang disesaki penggemar. Skandal cinta sang vokalis. Dan kontroversi. Lengkap. Sementara mungkin kita bisa saja muak dengan “Ada Apa Denganmu?” yang terlalu sering diputar, dinyanyikan dalam berbagai versi, dari dangdut hingga campur sari, atau “Bintang di Surga” yang menemani perjalanan di bis-bis atau angkutan kota sampai bosan.

Yap. Ada kalanya mereka memuakan. Walau begitu, sulit untuk memungkiri bahwa peterpan telah mencemari telinga gw selama tujuh tahun belakangan ini. Peterpan menemani perjalanan hidup gw dan hidup siapa saja yang senang menonton tv atau mendengarkan radio. Sama pula dengan sulitnya untuk memungkiri bahwa mungkin saja sekarang ini kita adalah pemain band death metal paling rock atau musisi jazz paling idealis, tapi tujuh tahun lalu saat masih berseragam putih-merah gonjrengan gitar pertama kita adalah susunan kord sederhana lagu “Mimpi yang Sempurna”. Jreeeeng jreeeeeng….

Begitulah.

Yang jelas, setelah nonton konser tunggal peterpan yang konon terakhir itu, gw agak sulit menghapus jejak wajah ariel (yang setelah gw pikir-pikir eh ganteng juga)…

hal-hal baik…

October 19, 2008

mungkin gw terlalu semena-mena, egois, arogan, atau apapun itu lah dengan menyalahkan posisi edar bumi terhadap matahari(yang konon berarti cuaca di bumi lagi panas banget), menyalahkan kecengan yang lebih memilih pacarnya daripada gw, menyalahkan teman yang terlalalu sensitif, menyalahkan hari-hari yang agak sedikit hmmm tidak baik dan menyalahkan segalanya kecuali diri sendiri. hingga pada akhirnya gw menyadari mungkin sesungguhnya letak kesalahan ada pada gw(dan bukannya hal ataupun orang lain).  ini hanya tentang bagaimana gw harus memandang sesuatu.

dan andaikata gw tidak bisa meralat keluhan-keluhan gw di hari-hari lalu, setidaknya di masa kini gw mengetahui betul kedatangan hal-hal baik.

.selamat datang hal-hal baik.

Kemarin gw bangun lebih awal(yang berarti juga mandi lebih awal). Sedikit berbenah rumah. Memasak banyak-banyak. Beberapa teman akan datang berkunjung atau lebih tepatnya menghabiskan persedian makanan dan berbuat sedikit kerusakan–kerusakan yang menyenangkan dengan diiringi obrolan sarkastis dan maki-makian khas remaja(aaaah, kita sama sekali sudah bukan remaja). Lalu menjelang sore kita semua keluar rumah, menyerbu pemandian air panas, melakukan sedikit huru hara, memenuhi memory kamera digital, melakukan aksi pamer dada(khusus para pria), dan makan malam di rumah makan sisi sawah.

Menyenangkan.

Itulah kesenangan yang tidak bisa diganti dengan seamplop duit(kecuali emang amplopnya jadi tebel bangeet).

Dan gw jadi teringat kata kata di Mc Culland di film into the wild yang bunyinya kira kira begini: “Kebahagian itu baru berarti jika dibagi dengan orang-orang yang kita sayangi”. Tentu saja benar, karena sangat tidak menyenangkan jika kamu pergi ke pemandian air panas sendiri, berfoto2 sendiri, makan malam sendiri, dan memaki-maki diri sendiri.

Kita perlu orang lain untuk berbagi bahagia dan derita.

Ternyata hal-hal baik tidak berhenti hingga disitu saja. Saat gw pulang, ada sebuah pesan singkat yang belum terbaca, “Maafin y atas yang kemarin2″, dari si cowok ganteng yang tidak jelas sebab musababnya memusuhi gw selama beberapa hari ke belakang. akhirnya…berakhir baik.

.hal-hal baik.

semoga hal-hal baik terus berlanjut, di kantor presiden, di pasar modal, di pembuangan akhir, di sekolah reyot, di kolong jembatan, di terminal, di rel kereta api, di kutub, di negeri konflik, di ethiopia, di rumah saya, di rumah kamu, dan di mana-mana…

bad day(ssss)

October 17, 2008

akhir-akhir ini cuaca panas banget. Konon, menurut temen gw yang iseng ngeSms informasi penting gak penting pakai pulsa gratisan(itu lho yang berlaku cuman sampai jam 12siang), matahari lagi dekat-dekatnya dengan bumi. Sementara itu, bulan september-oktober ini adalah bulan peralihan ke musim hujan(iya gak sih?). Hujan mulai turun beberapa kali. Bisa dibilang hampir tiap hari mendung menggelayut di langit. Jadinya, cuaca panas, awan mendung, langit gelap, udara gerah…, komplit dah!

dan bukan hanya itu…

gw terjebak di rumah. liburan masih beberapa hari lagi hingga gw kembali ke rutinitas yang menyebalkan (tapi bikin kangen). Bagi orang yang tidak kreatif dan tidak produktif seperti gw, masa-masa seperti ini berarti bangun siang, baca komik, bermain game, dan melamun banyak-banyak. Melamun banyak-banyak berarti menjadi melankolis dan sentimentil. Menjadi melankolis dan sentimentil berarti teringat bahwa gw baru saja tahu kalau kecengan gw sudah berpacar(ok, let say ‘jadian’) dan menyadari bahwa gw sedang dimusuhi seorang teman cowok yang ganteng yang tidak menyapa selama beberapa hari dan meleos pergi saat gw meminta maaf.

lengkap.

sudah.

tak ada yang lebih menghibur untuk sementara ini selain memandangi layar komputer yang tersambung ke internet lama-lama, memastikan bahwa gw sudah (akan) melupakan si kecengan itu, menulis beberapa blog, membaca isu-isu tentang kekurangan pangan di dunia, melihat IHSG hari ini, menjawab beberapa pertanyaan di sebuah situs(untuk tiap pertanyaan yang benar berarti 20grains beras disumbangkan ke anak yang kelaparan, coba buka deh!), mencari foto jonathan mulia, mencari lirik lagu, dan membalas testimonial teman friendster.

lalu sambil tak lupa sedikit bernyanyi penggalan lagu rem yang sudah lama gak gw dengar : “it’s been a bad day, please don’t take a picture, it’s a bad day, please….”

hari pangan se-dunia

October 16, 2008

Gw baru tahu menjelang malam kalau hari ini adalah hari pangan se-dunia. Gw hanya tahu kalau beberapa hari ini adalah hari cuci tangan se-dunia(iklan sabun you know what). Gw kurang ngerti tentang apa itu hari pangan sedunia, yang jelas kalau yang gw tangkep(ikaaan kali ditangkep??hehe), hari pangan sedunia ini menitikberatkan pada permasalahan pertanian.

.petani.

Nenek kakek gw adalah seorang petani, benar-benar petani dalam artian turun ke sawah untuk menanam padi dan memotongnya sendiri. Dengan demikian, dalam darah gw mengalir darah petani, darah yang sama yang juga mengalir di puluhan juta penduduk negeri ini, darah petani, kaum agraris. Namun, tinggal di kota yang mana sawah adalah tempat asing, membuat gw terkadang lupa asal-usul ini, sama lupanya kepada asal sepiring nasi yang tersaji saat gw makan siang di warung tegal. Sepiring nasi gw adalah bibit yang dibeli petani dengan susah payah. Sepiring nasi gw adalah tanaman padi yang memakan pupuk nan mahal. Sepiring nasi gw adalah yang bertahan melawan peluasan lahan industri. Sepiring nasi gw kesulitan mendapat air. Sepiring nasi gw sebelum panen dijual murah ke tengkulak. Sepiring nasi gw lebih murah daripada beras impor. Itulah sepiring nasi gw.

Dan hari pangan se-dunia ini mengingatkan gw kembali tentang banyak hal. Aaaah….baru ingat kembali kalau jutaan bayi kelaparan. Jutaan bayi kurang gizi. Jangan jauh-jauh, jangan-jangan tetangga sebelah rumah gw belum makan. Ah, jadi ingat kemarin gw membuang nasi. Ah, gw lupa kalau gw sudah lama tidak maen ke sawah. Ah, siapa yang nanti bakal jadi petani? aaaaah……

pizza

October 16, 2008

Seminggu yang lalu gw diajak makan pizza bareng oleh sepasang kekasih. Pergilah gw dengan sepasang kekasih berkomposisi unik itu, yang mana cowonya gendut dan ceweknya langsing semampai, ke sebuah restoran waralaba yang menjual pizza, you know what lah yaaa. Kami memilih sebuah tempat duduk di samping jendela, dimana kamu bisa melihat barisan motor delivery service ataupun para wanita setengah baya yang menenteng kantong belanjaan. Pelayan wanita dengan dandanan menor dan nada suara (sok) ramah menaruh dua buah daftar menu di atas meja lalu berlalu pergi. Kami pun memilih-milih(yang sebenarnya tidak perlu karena dari awal kita telah menetapkan untuk membeli paket paling hemat yang bahkan tidak ditulis di daftar menu yang ada di depan kami).

Di atas meja, selain dua botol saus, tiga buah piring(plus sendok garpu), dan dua buah daftar menu, tersimpan juga satu buah kertas lux yang dilipat menjadi prisma, seperti kalender, dengan foto seorang anak kecil, katakanlah balita, yang lusuh dan terlihat…hmm lapar. Alih-alih membaca daftar menu, perhatian kita teralihkan ke foto balita itu. Di bawah foto itu ada tulisan(kira-kira seperti ini): “2000 rupiah per hari akan menyelamatkan tiap balita dari bahaya kelaparan”. Kita cukup tersentuh. Kenapa? karena dua ribu sama sekali tidak seberapa dengan berapa rupiah yang kita habiskan per harinya, untuk makan, jajan, jalan-jalan, foya-foya, dan istilah-istilah yang kurang lebih sama. Sementara jutaan bayi di negeri ini terancam mati kelaparan atau kurang gizi hanya karena tidak memiliki dua ribu rupiah tiap harinya.

Ironi.

Lalu datanglah pesanan kami, paket berempat yang terdiri dari empat pan kecil pizza, satu piring roti kering(brucchetta atau apalah itu), dan empat gelas soda cola. Ironi. Jutaan bayi kelaparan dan kami bertiga membeli paket makan untuk berempat. Salahkanlah manager restoran itu yang tidak membuat paket bertiga, seakan-akan membuat paket bertiga merugikan atau apa. Yang jelas, bagi gw saat itu empat pan(atau enam belas potong pizza) sudah lebih dari akan sangat mengenyangkan. Dan benar saja, setelah tiap orang memakan empat potong pizza(yang berarti masih ada tersisa empat potong lagi) mata gw berkunang-kunang tidak sanggup meneruskan makan. Namun, setiap kali kami tergoda untuk menyisakan makanan dan beranjak pergi, foto si bayi di atas meja menahan kami. Jutaan bayi kelaparan di luar sana sehingga bukanlah sesuatu yang pantas bagi kita yang berkecukupan untuk menyisakan makanan. Alhasil, dengan semangat yang masih tersisa gw mengunyah potongan pizza terakhir.

Malamnya, gw diare karena terlalu banyak makan pizza.