Archive for September, 2008

oh baby, please(don’t) stop pay attention to cinta laura

September 5, 2008

Kadang-kadang gw setuju kalau ternyata orang Indonesia itu kreatif. Buktinya, di facebook gw pernah liat beberapa group dengan nama yang cukup kreatif dan bikin gw senyum-senyum sendiri, dia antaranya: kita suka membuat orang sebel dengan berbicara seperti cinta laura, Aku cinta Cinta Laura, dan Save Our Nation! Please Let’s Stop Paying Attention to Cinta Laura Kiehl. Diantara semuanya, gw paling suka nama group yang terakhir, Save our Nation! Please let’s stop paying attention to cinta laura kiehl. Wakakaka, yang namanya orang semakin dilarang semakin penasaran. Semakin dilarang membahas, justru semakin pengen ngebahas, apalagi sekarang wajah bule si Cinta itu semakin sering nongol di televisi sambil nyanyi-nyanyi nari-nari… uh, gw jadi pengen ngomongin dia(padahal lagi bulan puasa). Dan gw pastikan, pembahasan tentang cinta laura ini bukanlah yang terakhir.

Siapa Cinta Laura? Cinta Laura lahir(lewat operasi caesar soalnya sungsang) di Quakenbrück Jerman pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai anak tunggal dari pasangan Michael Kiehl dan Herdiana, S.H. Ooo, ternyata Michael Kiehl ini general manager hotel berbintang internasional yang kerjanya pindah-pindah. Entah sejak tahun berapa keluarga Kiehl ini pindah ke Indonesia. Yang jelas, tahun 2005 Cinta memulai debut karir di dunia hiburan sebagai top model dilanjutkan dengan sebuah sinetron yang berjudul Cinderella. Di sinetron ini cinta laura mulai dikenal, bukan karena aktingnya, tapi gaya ngomongnya yang kebarat-baratan. Anehnya, setelah sekian lama, bukannya sembuh, ngomong ala bule-nya cinta laura ini malah makin parah, kronis abiiiis…

Akibatnya, sebagian orang sebel denger dia ngomong, sebagian lagi geli, sebagian lagi ya biasa ajaaa… Tapi, infotainment ngeBlow-up semua berita tentang Cinta. Masyarakat pun keracunan, walo sebel-sebel tetap aja keinget-inget.

Kemudian kalimat “Huujan, bechuek, guak ada ojhueek” jadi jargon yang khas melekat ke cinta laura, padahal konon cinta gak pernah tuh mengeluarkan statement seperti itu. Eksesnya, dimana-mana orang mengulang kata-kata itu, dijadikan bahan lawakan, awalnya sih untuk menghina(urusan hina menghina orang indonesia jagonya), lama-lama jadi bagian dari khazanah bahasa pergaulan masyarakat dan bahkan komoditas bisnis. Yang untung siapa? tentu aja cinta laura, doi makin terkenal dan makin kaya raya.

Yang paling hot, sekarang Cinta jadi penyanyi. Dua singlenya udah wara-wiri tuh di televisi. Yang satu jugulnya ‘You Say Akyu’ yang jadi soundtrack sinetron, yang satu lagi ‘Oh Baby’ yang jadi soundtrack filmnya. Temen gw bilang, di lagu ‘Oh Baby’, daripada suara asli Cinta yang keluar lebih banyak sound-effectnya, tapi toh lagunya cinta itu banyak yang demen… buktinya di acara-acara chart musik yang tiap pagi itu banyak yang request lagu cinta laura. aneh, tapi nyata.

Itulah yang membedakan cinta laura dengan kebanyakan orang Indonesia. Dihina, dicaci, pedenya tetap selangit…doi benar-benar menerapkan peribahasa, anjing menggonggong khalifah tetap berlalu. Mungkin darah Jerman yang membuat karakter dia seperti itu. Cinta punya ambisi…dan selama dia merasa tidak ada yang salah dengan ambisinya kenapa harus berhenti, apalagi hanya karena hinaan orang. Bukannya menyama-nyamakan cinta dengan hitler(karena emang jauuuuh banget), tapi kita mesti ingat, dulu Hitler juga dikenal sebagai orang yang sangat berambisi sekaligus menuai banyak kontroversi(seperti Cinta). Apa yang terjadi? Hitler sukses menjadi pemimpin yang terus dikenal dan dikenang seluruh dunia sepanjang masa.

Ok, Cinta laura mungkin tidak akan dikenal dan dikenang dunia sepanjang masa, tetapi ia bisa dipastikan jadi orang sukses. Otak Cinta pintar(akyu selalalyu dapet nilay bagussy di sekowlahkyu), modalnya banyak, cantik(gw baru sadar akhir-akhir ini), jaringan sosialnya luas, dan ambisinya besar. Jadi, sejauh ini (mungkin) tidak ada yang salah dengan Cinta Laura.

gelonggongan…

September 4, 2008

Jadi vegetarian itu pilihan hidup yang baik. Serius. Di tengah harga protein hewani(alias daging) yang muaakiin mahal belakangan ini(apalagi menjelang hari raya), vegetarian tidak perlu pusing-pusing. Sayur segar plus tempe tahu saja sudah cukup. Sehat pula! Walau begitu, hingga detik ini gw masih memilih jalan hidup sebagai karnivora(sekaligus herbivora). Bagi gw, protein hewani masih dibutuhkan tubuh ini untuk menambah berat badan(biar gak terbang kalo angin lagi kenceng) dan demi pergaulan (yaaa kadang-kadang kalau ada yang ulang taun gw diajak ke kfc, warung steak, atau McD).

Masalahnya, apa jadinya kalau daging yang kita makan adalah daging gelonggongan? Daging gelonggongan adalah daging hewan yang sebelum disembelih terlebih dahulu disuntik dengan air yang buaaanyak supaya berat daging bertambah dari yang sewajarnya. Menurut pakar kesehatan, makan daging gelonggongan tidak baik buat kesehatan. Daging gelonggongan banyak mengandung mikroba(jelas, wong direndem aer) plus dagingnya juga kemungkinan mengandung hormon adrenalin yang dihasilkan si hewan saat sekarat. Ok, murah sih murah….tapi berbahaya. Kalau sudah begini, dipikir-pikir vegetarian memang pilihan hidup yang baik.

Nah, selain merugikan manusia, proses ‘membuat’ daging glondongan menurut gw juga sangat tidak-tidak-tidak berperikehewanan sama sekali. Kalau yang gw lihat di tv tadi sore, seekor sapi yang akan disembelih diikat keempat kakinya, dipaksa meminum air dari sebuah selang yang dimasukan ke dalam mulutnya. Selang air itu dimasukan hingga lima sampai enam jam(hello, enam jam!!). Bayangkan, sapi dipaksa minum air hingga tubuhnya bengkak menggelambir sekarat kebanyakan minum terus baru disembelih. Gw jadi inget organisasi lingkungan hidup greenpeace atau wwf, selain mengurusi paus, koala, panda, atau hutan lindung mereka concern juga gak sama masalah hewan ternak? Kalau concern juga, apa kasus daging glondongan sebaiknya laporin aja ke mereka biar hewan-hewan ternak itu juga terjaga hak-hak asasinya. Habisnya, kalo ingat tayangan tv pas sapinya diminumin air, wah gw ikut sakit hati.

Intinya, dalam memilih konsumsi hewan ternak mungkin kita musti lebih selektif lagi. Jangan mentang-mentang omnivora, semuanya diembat. Daging boleh mahal, harga diri kita pun harus ikut jual mahal, pastikan hanya mau makan makanan yang layak, sehat, dan halal…. bukannya daging korban pelanggaran hak asasi hewan,

bajak saja ampe empeeeeet

September 4, 2008

Beberapa musisi, katakanlah yang tidak terikat mayor label apa pun, yang idealis, yang tidak menggantungkan hidupnya dari musik, yang udah kaya dari sononyah, dan yang udah terlalu lelah dengan industri memilih untuk memasarkan karyanya secara gratis. Karya mereka bisa diperoleh di konser-konser mereka atau didownload bebas dan legal di internet. Inilah sebuah metode bermusik dan mengekspresikan diri dengan eksist tanpa harus terikat pasar. Mengapa? Sebab pasar industri musik kini terlalu carut marut, salah satunya adalah akibat ulah orang-orang seperti gw yang hobi membeli mp3 bajakan dan mendownload lagu di internet secara ilegal.

Mana yang lebih mudah, membajak lagu di internet atau membeli mp3 bajakan? Gw kurang tahu. Yang jelas, karena keterbatasan akses terhadap koneksi internet yang cepat, gw lebih sering berburu lagu di tukang cd bajakan. Khusus beberapa lagu yang sulit dicari, barulah gw download di internet. Bisa dibilang ngga ada yang ngga ada di internet. Mau download sekalian dengan videoklipnya? tinggal buka youtube aja kaaaan. Inilah masa kini. Era kemudahan. Jika kita mempersulit diri bisa-bisa ketinggalan ketinggalan zaman.

Mana yang lebih murah, membajak lagu di internet atau membeli mp3 bajakan? Gw juga kurang tahu. Tapi, mari kita hitung-hitung. Ambil contoh, untuk satu keping CD berisi dua ratus lagu biasanya dikenakan harga antara 5.000—10.000 rupiah. Sementara, untuk satu lagu berukuran 4 mega biasanya membutuhkan waktu download sekitar dua sampai lima menit (kecepatan internet standar). Jika berinternet di warnet dengan tarif 3000/jam, proses mendownload 200 lagu akan menghabiskan waktu sekitar 6 jam, artinya menghabiskan Rp 30.000,00. Jika berinternet di rumah menggunakan ADSL, katakanlah speedy dengan tarif personal, satu lagu mungkin menghabiskan sekitar Rp 200,00 yang berarti dua ratus lagu sama dengan Rp 40.000, sedangkan speedy dengan tarif time based bisa menghabiskan sekitar 4000/jam atau Rp 36.000 tiap 200 lagu. (ini hitung-hitungan sotoy, jangan dipercaya!! gw gak tau tarif speedy hehehe). Lain halnya jika kita berinternetan secara gratis(numpang orang, nebeng wi-fi di restoran, ngehack, dll), mendownload ratusan lagu sampai enek juga gratis.

Mana yang lebih merugikan, membajak lagu di internet atau membeli mp3 bajakan? Hmm, jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi(waaa sotoy lagiiii) dan tentunya sudut pandang gw(tuu kan terbukti gw emang sotoy), dua-duanya jelas merugikan. Siapa saja yang dirugikan?

  1. musisinya. Udah susah-susah latihan, udah susah-susah rekaman, udah keluar modal besar, udah ngarep banget jadi kaya raya, eh lagunya dikonsumsi orang dengan cuma-cuma lewat jalur ilegal.
  2. pemerintah. Ngga ada istilahnya kan PPn untuk barang bajakan…itu artinya pemerintah kehilangan pendapatan pajak yang sangat signifikan kalau masyarakatnya membeli barang bajakan, bukannya barang orosinal yang merupakan barang kena pajak.
  3. masyarakat. Barang bajakan(mau film, musik, alat elektronik, buku) adalah barang kualitas rendah yang menunjukan selera masyarakatnya….sedih kan kalau dicap orang berselera rendahan??
  4. industri musik. Jangan heran nanti musisi-musisi jenius malas buat lagu lagi, soalnya lagu mereka ngga dihargai sama negeri sendiri. Yang bakal membanjiri industri musik adalah para amatiran yang boro-boro idealis, main musik aja ngga bisa.

Mana yang lebih dosa, membajak lagu di internet atau membeli mp3 bajakan? Entahlaaah. Kalau gw, lebih merasa berdosa kalau beli bajakan. Kesan yang ditimbulkan oleh orang banyak juga begitu. Artis-artis bilang: “Jangan beli kaset bajakan yaaa”, bukannya bilang : “Jangan download lagu di internet yaaaa” Padahal, gw pikir-pikir yaa sama aja.

Mana yang lebih bisa dimaafkan, membajak lagu di internet atau membeli mp3 bajakan? Kok dimaafkan? Yaaaa, memang…mau gak mau tetap ada sisi yang bisa dimaapkan dari pembajakan. Beberapa musisi malah rela dibajak, alasannya adalah ajang promosi gratis. Toh sekarang ada ring back tone, sumber penghasilan baru mereka. Pernah juga gw liat kalimat yang ditulis oleh seorang yang ngeshare lagu di internet: “Kalau kalian suka lagunya jangan lupa beli cd aslinya ya. Jangan dukung pembajakan” Yups, benar juga, share lagu di internet adalah ajang promosi yang baru dan segar. Terus, kadang-kadang gw merasa pembajakan telah berhasil membuka lapangan kerja baru, pengangguran pun berkurang, soalnya mereka telah punya profesi baru sebagai pembajak dan tukang kaset bajakan. Ekonomi mikro, dalam lingkup kecil dan jangka pendek, sebenarnya diuntungkan oleh aktivitas pembajakan.

Nah, sekarang masih mau ngebajak lagu??

gw iyah

dunia dalam genggaman

September 4, 2008

Dalam beberapa hal, gw suka handphone. Kadang-kadang handphone dapat diandalkan sebagai sumber beberapa kebahagiaan kecil. Handphone suka membawa kabar baik, contoh: sms jarkom kelas tidak jadi kuliah. Handphone membuka peluang agar silaturahmi dengan teman dan keluarga tetap terjalin walau terhalang jarak yang jauh, contoh: menelpon orang tua di kampung minta kiriman. Handphone juga membuat gw tersenyum spontan saat membaca sms-sms yang menyenangkan, contoh: sms dari kecengan. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, mengingat perkembangan zaman menuju era globalisasi semakin menuntut keefektivitasan dan mobilitas yang tinggi, handphone telah berperan sebagai media komunikasi yang bisa memperpendek jarak serta mempersingkat waktu…membuat hidup yang sulit sedikit jadi lebih mudah.

Kini, fungsi handphone semakin berkembang. Tidak hanya bisa menelepon dan sms, handphone juga bisa melakukan segalanya sebab segala fasilitas aneh-aneh ditambahkan ke dalamnya. Ada kamera, ada music player, ada internet, ada office, ada semuanya. Bangun tidur dibangunin alarm handphone(dilanjutkan dengan morning call dari yayang), ngirim e-mail ke rekanan pakai handphone, waktu macet liat rute jalan pakai handphone, bosan di perjalanan cukup dengarkan musik dari handphone, foto-foto waktu naik gunung pakai handphone(ngapain bawa DSLR, berat, toh kamera handphone udah canggih), presentasi perusahaan pakai handphone, musisi bikin lagu pakai handphone, anak lahir diabadikan pakai kamera handphone, browsing di dunia maya sepuas-puasnya pakai GPRS di handphone. Pokoknya semua serba handphone(jangan-jangan lama-lama masak ma nyuci juga pake handphone?!)……

Fenomena yang terlihat sekarang, dimana-mana orang menjinjing handphone, di telinga orang-orang tertempel headset, jempol orang-orang nempel terus di keypad. Semuanya, dari tukang es sampai anggota DPR, dari seniman sampai tukang batu. Apalagi sekarang, tarif telepon dan sms telah jauh lebih murah daripada dua tahun lalu disaat dunia seluler hanya dikuasai oleh tiga operator besar. Konsumen dapat memilih sebebas-bebasnya operator mana yang paling berkenan di hati(yang berarti iklannya paling sukses). Kita bisa ngobrol sampai kuping panas bahkan hingga dua puluh lima jam sehari(sori, gw lebay). Yang jelas, ‘budaya’ handphone ini memang pas banget buat orang Indonesia, yang sebagian besar masyarakatnya hobi ‘bercerita’, bercengkrama, ramah-ramah, punya sisi romantisme yang tinggi, dan agak lebay(kayak gw…)

Namun, ada kalanya benda bernama handphone itu bisa jadi sumber masalah juga. Konon, sinyal yang dipancarkan handphone lebih sering membawa kecemasan dan ketidaktenteraman daripada membawa ketenangan. Banyak juga kesalahpahaman yang ditimbulkan handphone. Belum lagi kalau sudah ketagihan, pisah dari handphone beberapa menit saja bisa kalang kabut. Sms gak dibalas sekali saja, ngamuk-ngamuk. Telepon gak diangkat paniknya setengah mati. Kalau seperti itu caranya, handphone jadi bikin orang sering makan hati lama-lama sakit jantung.

The Known World…

September 1, 2008

Jika tinggal di daerah kos-kosan sekitar sebuah kampus, rasa-rasanya seperti tinggal di sebuah miniatur wilayah geografis yang lebih besar. Dari orang Batak sampai orang Bugis ada. Dari toko pulsa sampai laundry baju ada. Dari gado-gado Betawi sampai nasi Padang ada. Komplit.

Kini, setelah tinggal selama hampir dua tahun, mau tidak mau daerah kos-kosan yang gw tinggali sekarang adalah ‘dunia’ gw. Inilah dunia yang gw kenal, the known world… Pelan-pelan gw mulai mengenali setiap sudutnya, gang-gang sempit yang becek berlubang, tembok-tembok yang kusam, selokan yang kecokelatan, orang-orang yang ke masjid saat adzan berkumandang, dan belokan-belokan jalan, dan udaranya, dan semburat matahari senja yang menyelinap di balik daun-daun sebuah pohon kurus.

Begitu pula orang-orangnya. Sedikit demi sedikit gw mengenali mereka. Tetangga-tetangga yang hidup berdampingan dengan beragam karakternya. Dan kami pun bersimbiosis. Beberapa diantaranya gw tahu namanya, lebih banyak yang tidak. Kemudian munculah panggilan-panggilan baru untuk mereka. Sebagian tercipta dari sejak lama, menjadi warisan bagi setiap generasi. Sebagian lagi gw dan teman-teman ciptakan sendiri dengan beberapa kisah asal muasal yang tidak terlalu relevan sebenarnya.

Berikut ini adalah beberapa nama panggilan tersebut :

CEU IKIN

Salah satu nama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi adalah ceu ikin. Ceu ikin adalah perempuan Sunda pemilik sebuah warteg alias warung makan di dekat kosan gw. Di dalam warung tersebut sebenarnya ada beberapa perempuan dewasa, entah yang mana yang sebenarnya bernama Ikin. Yang jelas, semua perempuan di situ kami panggil Ceu Ikin. Yang terkenal dari Ceu Ikin adalah desas-desus kalau mereka suka galak sama anak perempuan, tapi ramah pada anak lelaki, terlebih-lebih pada yang tampan. Setiap ada anak lelaki tampan lewat depan warungnya pasti langsung disapa : “Randiiiii, kok gak mampir?” Hehehe

MAS YOI

“Mas, fotokopi yang ini dua ya!” “Yoi!” “Mas, beli pulpen” “Yoi” “Mas, nanti saya ambil ya” “Yoi” “Mas, tolong jilidin ini dong” “Yoi”…. Alhasil, gw dan teman-teman kos pun memanggil tukang fotokopian yang terletak di samping warung Ceu Ikin ini dengan sebutan Mas Yoi (bukan Doy, Doy mah judul lagu Kangen Band)

MAS MILIMETER BLOK

Nah, mas milimeter blok ini juga tukang fotokopi. Dia anak buahnya Mas Yoi. Panggilan ini muncul gara-gara suatu kejadian menggelikan di awal-awal gw tinggal di sana. Suatu malam, teman gw minta diantar ke fotokopian. Teman gw masuk agak ke dalam dan menemui mas penjaga fotokopian sementara gw menunggu sambil melihat-lihat etalase yang menghadap ke arah jalan. Tiba-tiba muncul seorang mahasiswa yang tiba-tiba berkata, “Mbak, ada milimeter block?” Olalaaa, gw disangka tukang fotokopi. Anehnya, walau ngeliat gw dan teman gw ketawa ngakak, mahasiswa itu tetap tidak sadar ia salah orang. Ia baru sadar saat akhirnya mas penjaga fotokopi yang asli menghampiri dan memberikannya milimeter block. Sejak saat itu, Mas penjaga fotokopi yang itu diberi panggilan Mas Milimeter Blok.

AKANG BAIK HATI

Teman gw yang membuat panggilan ini. Akang baik hati adalah pemilik warung di seberang gang kosan gw. Orangnya memang baik hati, murah senyum, dan ramah. Andaikan setiap pemilik warung seramah itu,huhuhu. Susah menemukan orang baik di zaman sekarang.

UDA

Dari namanya saja kita tahu kalau Uda ini orang Padang. Ternyata, dari sejak zaman dosen-dosen gw kuliah, Uda sudah dikenal sebagai tukang fotokopi di kalangan mahasiswa. Sekarang, siapa yang tidak tahu Uda? Mau pesan fotokopi sebuah buku(ups), tinggal hubungi Uda yang letak fotokopiannya dan fotokopian Mas Yoi hanya dipisahkan oleh sebuah gang.

IBU SOTO

He3…mengapa dipanggil Ibu Soto? simpel saja, karena ibu ini berjualan soto.

IBU GENIT

Entah mengapa ibu tukang gado-gado ini dipanggil bu genit. Yang jelas, ibu ini memang ramah sama siapa saja. Kalau gw atau teman gw lewat pasti disapa, “Mau kemana Cah Ayu?” Di matanya, para perempuan ayu semua. Bagus kalau begitu, hehehe. Mungkin begitu pula dengan para lelaki di matanya, ganteng semua.

BAPAK GALAK/OPIK

Gara-gara pernah dibentak waktu salah ngeprint di rental komputernya, gw tanpa sadar memberi label pada pemilik rental komputer itu : Bapak Galak. Di samping galak, bapak tersebut mirip dengan penyanyi dan pencipta lagu, Opick. Oleh karena itu, jika galaknya sedang tidak kambuh gw lebih memilih memanggilnya Opik.

Dan masih banyak tetangga-tetangga yang lain yang mengisi komunitas di sekitar gw dengan keriuhan dan kehidupan. Tanpa sadar kami saling berinteraksi dan menciptakan ketergantungan. Inilah dunia yang gw kenal, dunia yang riuh, dunia yang ramah, dunia yang setidaknya menciptakan area nyaman gw dari keterasingan.