Archive for June, 2008

anak muda bisa lupa juga…

June 26, 2008

Kata siapa penyakit pikun hanya milik orang tua? Kadang-kadang anak muda bisa lupa juga… Di kosan gw, biasanya jika terjadi trouble yang diakibatkan masalah kepikunan, temen gw yang pikun itu bakal diledek dengan sebutan “alzheimer”… Padahal, gw juga kurang paham tuh sebenarnya alzheimer itu penyakit apa. Setau gw sih penyakit yang diderita oleh tokoh Pak Guru yang diperankan oleh Alm. Sophan Sophian di film LOVE. Di film itu diceritakan walaupun sudah pensiun, Pak Guru lupa dan masih tetap pergi mengajar..walaupun sudah potong rambut, tetap pergi ke barbershop.. Semua berulang begitu terus setiap hari.

Nah, menurut hasil browsing gw, alzheimer kurang lebih ialah penyakit menurunnya daya ingat (biasanya terjadi pada lansia) dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Mudah lupa nama benda, nama orang dan sebagainya.
  2. Terdapat gangguan dalam mengingat kembali (recall)
  3. Terdapat gangguan dalam mengambil kembali informasi yang telah tersimpan dalam memori ( retrieval )
  4. Tidak ada gangguan dalam mengenal kembali sesuatu, apabila diberi isyarat ( cue )
  5. Lebih sering menjabarkan bentuk atau fungsi daripada menyebutkan namanya.

Alzheimer jarang dialami oleh anak muda(jadi gw dan teman-teman kos menggunakan istilah ledek2an yang salah tuh). Tapi, gw pernah juga sih liat anak muda yang kenal alzheimer…kalau tidak salah tokoh yang diperankan Laudia Chyntia Bella di sebuah sinetron, he3…

Yah, tapi memang benar, anak muda bisa lupa juga. Khusunya gw. Hanya saja, setelah dipikir-pikir kok dari kecil sampai sekarang gw pikunnya suka kebangetan… Kadang-kadang mengganggu dan sering merepotkan juga. Mari kita lihat beberapa kejadian yang menimpa gw seperti di bawah ini..

1. Lupa Nama Orang

Gw ketemu seseorang yang baru kenal beberapa hari sebelumnya di jalan dan dia menyapa, “Hei, Gestiii!”

“Eh halo, Mas” jawab gw grogi. Karena lupa namanya, gw pun bergegas pergi.

“Tunggu, kok gak manggil namaku sih”

“He3, maaf Mas. Hmm, halo Mas…Rudi?”

“Hah, Rudi?”

“Oh, salah ya? Mas…”

“Suryo.”

“Oh iya, maaf Mas Rahmat”

“Suryo.”

“haaah?”

“Suryo.”

“aaaaa…Mas Suryo. Maap-maap”

Bagus. Selain pikun ternyata gw juga budeg.

2. Lupa Kalau Bawa Sepeda

Kejadiannya waktu gw sekolah agama dulu. Suatu hari gw pergi naik sepeda, tetapi saat pulang malah jalan kaki. Saat hampir setengah perjalanan gw baru menyadari kalu ada sesuatu yang salah: sepeda gw ketinggalan!

3. Lupa Menaruh Barang

Jangan ditanya apa saja dan berapa banyak barang yang gw hilangkan atau berapa kali dalam sehari gw mencari kacamata.

4. Salah Turun Dari Angkutan Umum

Gw pernah turun di depan gang rumah gw yang lama, padahal gw sudah pindah rumah beberapa bulan sebelumnya.

5. Tidak Pernah Ingat Belokan Di Sekitar Rumah

Gw pernah nyasar pulang ke rumah dari masjid saat bulan puasa yang lalu.

Hingga kemarin sore, saat gw naik mobil gw lupa belokan menuju rumah dan gw terpaksa memutar.

Bahkan saat lewat samping rumah naik motor, gw masih kurang yakin itu rumah gw(terlalu tertutup daun-daunan).

Pfuuh….

6. Mengambil Dobel Barang Belanjaan

Setahun yang lalu, gw dan seorang teman beli flashdisk untuk kado ulang tahun. Flashdisk-flashdisk yang ditawarkan diletakan di atas meja display. Setelah memilih yang mana yang akan dibeli, gw membayarnya lalu penjualnya membungkuskan flashdisk yang baru dan menyerahkannya ke teman gw. Entah mengapa gw merasa flashdisknya belum diserahkan sehingga gw mengambil flashdisk yang di atas meja display lalu keluar dari toko itu.

Saat beberapa langkah di luar toko itu, teman gw menyadari ada yang aneh.

“Tunggu, kok flashdisknya lu pegang. Flashdisknya kan ada di tas gw?”

“Hah, masa sih. Flashdisknya emang sebelumnya udah dikasiin ya?”

“Kalau gak salah sih udah” teman gw ikut tidak yakin. Ia membuka tasnya dan menarik sebuah keresek. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk.

“Astaghfirullah. Jadi kita ngambil dua!!!”

“Waaaa…….”

Saat itu juga kami bergegas berlari masuk kembali ke dalam toko sambil membungkuk-bungkuk minta maap atas kekeliruan yang terjadi. Untung saja tidak ditangkap polisi.
7. Salah Masuk Kamar

Kamar Siphit dan Ayu di kosan berdampingan. Siphit di sebelah kiri. Ayu di sebelah kanannya. Namun, entah mengapa, gw sering tidak bisa membedakan. Kadang-kadang…

“Ayuuuu!!” gw membuka pintu. Tapi, ternyata gw masuk ke kamar Fitri.

Atau…

“Siphiiiit” gw mengetuk pintu. Tapi, ternyata gw mengetuk pintu kamar Ayu.

Biasanya gw bisa ngeles. Pura-puranya nyari Siphit di kamar Ayu atau nyari Ayu di kamar Siphit…
8. Dan Lain-Lain…(lupa,he3)

toh anak muda bisa lupa juga…

afganismeu

June 23, 2008

Barusan gw ngebaca sebuah blog, kayanya sih yang punya bapak2.. Salah satu postingannya ngomongin tentang afgan. Hari gini, seorang bapak pun sempat mendengarkan dan mengomentari afgan…sah sah saja! Yang perlu digarisbawahi, diantara beberapa postingan terakhir di blog beliau, postingan tentang afgan yang paling banyak comment-nya(termasuk comment dari gw,he3)

Gw jadi ingat suatu hari beberapa bulan yang lalu pas lagi liat-liat cd di disc tarra. Waktu itu lagu ‘terima kasih cinta’ belum wara-wiri di radio ataupun tipi(ato gw-nya yang telat denger,dunno!). Gw ngeliat sebuah cd, cover-nya simple aja, ..malah gw sempat ngira itu cd penyanyi luar(at least malay ato s’poh lah). Ternyata CD lokal. Pas gw deketin CD-nya ke mata yang rabun siang dan senja ini, gw langsung nyamperin temen gw  sambil bawa CD itu dan spontang bilang: “Gw gak tau siapa dia, baru pertama liat, tapi seriusan ini nih tipe gw!” Lebay sih, tapi serius..waktu itu gw ngerasa cowo di cover CD itu ganteng banget–my type banget. Kalau love at the first sight itu benar ada, maka gw rasa ya itulah contohnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya gw liat juga single “terima kasih cinta” di televisi.  Menurut gw video klipnya aneh(sorry to say). Terus, gw juga kurang suka lagunya…waduh, orangnya boleh my type, tapi lagunya tidak. Terlepas dari itu, suara si afgan ini emang sexy, serak-serak banjir, berat gimanaaaa.. Dari sudut pandang industri(gw sotoy), suara afgan ini ialah komoditas utama: Main Product. Kegantengannya: Joint Product. Dan lagunya, sayang sekali, hanyalah by product…by product yang laris manis. Dan hidup itu ironi, toh ujung-ujungnya gw mengakui juga (walo dengan berat hati) kalau lagu afgan itu boleh juga…dan memakai juga ring back tone lagu Afgan: Sadis. (kebanyakan pulsa!)

Emang Sadis.

Gw kadang-kadang suka lihat acara tangga musik pagi-pagi di sebuah stasiun tivi. Sepengetahuan gw, Afgan udah datang ke acara itu tiga kali… Kalau orang waras sih bosen. Tapi, gw gak bosen tuh. Pembelaan gw, sah-sah aja kok nongkrongin brondong manis bersuara seksi yang pinter dan tajir. Dengan demikian, gw juga mengerti perasaan ratusan cewek yang datang ke show-show afgan, berteriak histeris, mendengar suaranya saja melayang, dan cemburu(padahal siapa elu?) pas tau afgan deket sama eva celia. Haha.

Emang Sadis.

Actually, logikanya…ada hal yang lebih penting(ok, penting itu relatif!) untuk dibicarakan oleh para gadis selain betapa manisnya afgan…ambil contoh:bagaimana caranya memperbanyak sumber-sumber energi alternatif selain minyak bumi? atau: tau ngga siiih ada aktivis ikan paus yang ditangkap di jepang? Tapi toh, bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan itu absurd. Sementara afgan adalah real, sosoknya nyata…setiap hari ia disuguhkan oleh media dengan cuma-cuma kepada ribuan gadis polos seperti gw. Bertolak belakang dengan informasi tentang situasi panas di jalur Giza, atau para pendukung kebebasan Aung San Su Kyi ditangkap lagi…yang kadang-kadang mendapatkannya sedikit sulit, bahkan mungkin harus membayar(buka internet or baca koran?)

Emang Sadis.

Yah setidaknya, dengan adanya afgan (dan acara2 musik itu) saat gw bangun pagi ada suara cowok seksi yang berat itu yang bisa gw kagumi tanpa harus repot-repot memilikinya. Santai saja. Nikmati suaranya seperti menikmati secangkir teh panas di sore hari, sampai akhirnya gw menyadari siapa yang benar-benar sadis dan harus ditangisi?

setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, setengah hamburger

June 22, 2008

Dua malam yang lalu, gw datang ke ke sebuah hotel berbintang di pusat Jakarta. Gw duduk di lobi, melihat ke sekeliling, dan seketika tersedot ke dalam sebuah dimensi lain yang terang benderang. Orang-orang lalu lalang dengan langkah bergegas, seperti kilatan-kilatan lampu yang memantul di gelas-gelas kaca. Sebagian yang lain duduk di sofa, berbicara dengan sesamanya tentang segala hal, sebagian besar tentang uang. Orang-orang itu datang dan pergi. Hingga larut tak berhenti.

Inilah dimensi yang membuat penasaran. Mengingatkan terhadap pengalaman pertama di masa kecil saat mencoba kerak telor di sebuah pasar malam yang menghasilkan rasa memikat dan tak terlupakan. Juga seperti cairan sihir dengan mantra-mantra pikat yang dituangkan dari sebotol wine yang anggun.

Anggun. Jakarta yang anggun. Seanggun wanita dewasa yang menggandeng tas Guess, bersepatu Prada, dan berkacamata Fendi. Membentuk citra elegan. Membalut kultur post-modern yang kini menjadi tanda tangan, gaya, identitas para individu yang beragam. Jika Fira Basuki pada novelnya menyebut Singapura sebagai Rojak (rujak), penuh keanekaragaman kultur dan karakter manusia, maka Jakarta adalah setengah rujak, setengah gado-gado, setengah kerak telor, dan setengah hamburger.

Eksotis. Gw juga suka menggambarkan kota Jakarta dengan kata itu. Eksotis, karena ada daya pikat lain dibalik balik dimensi yang terang benderang itu. Sebuah dunia yang lebih nyata. Mungkin keras, tetapi historis. Berwarna abu-abu dan cokelat kekuningan, direkam oleh bangunan-bangunan tua, gitar anak-anak jalanan dan kubangan-kubangan air di musim penghujan. Yang berwarna hanyalah merah dan putih.

Gw sering bertanya-tanya. Seperti, apakah pernah terlintas di pikiran Fatahillah bahwa bandar yang direbutnya dari Kerajaan Sunda 481 tahun lalu akan menjadi sebuah kota pusat peradaban modern, dengan Starbuck dan high rise building menjulang mencakar langit di setiap sudut kotanya? Juga apakah pernah terlintas di pikiran Si Pitung(jika benar ia ada), bahwa yang menjajah kota Jakarta bukan lagi Belanda? Pun terlintaskah di pikiran seorang Benjamin S. tentang gw, salah satu dari sekian generasi mtv yang mengenal lenong tidak sebaik mengenal rolling stone?

Gw juga pernah berkhayal, Fatahillah ada di zaman ini, merasakan naik Trans-Jakarta, mengantre busway yang hampir selalu penuh itu. Dan Pitung(andai benar ia ada), melawan preman-preman yang galak di Kampung Rambutan. Dan Almarhum Bang Ben, andai engkau masih ada, duduk-duduk di Taman Ismail Marzuki, bermain pantun tentang ironi hidup yang semakin keras dan segala kisah-kisah ibu kota. Kisah-kisah yang tak akan pernah habis, tetapi selalu ada ruangan untuk menuliskannya di tengah sempit dan sesaknya kota itu. Kisah-kisah dari lobi hotel terang benderang hingga kolong jembatan yang temaram…