Archive for May, 2008

Pet (part I)

May 31, 2008

Dari sekelompok orang yang berinteraksi dengan hewan, ada sebagian orang sedih karena tidak bisa memiliki hewan yang ingin ia pelihara, sebagian lagi sedih karena tidak bisa memelihara hewan yang ia miliki, sisanya adalah orang orang yang sedih karena terpaksa memelihara hewan yang tidak (ingin) ia miliki…

Cerita dimulai di suatu malam sekitar dua tahun lalu, masa masa di mana gw bisa tertidur(atau tepatnya ketiduran) dengan masih menggunakan seragam abu-abu lengkap dan tanpa sempat cuci tangan setelah makan. Antara lelap dan terjaga, gw merasakan sebuah sensasi yang tidak biasa pada jari-jemari. Sensasi itu seperti geli yang ditimbulkan jika adik bayimu yang baru tumbuh gigi susu depan menggigitmu. Ketika membuka mata, gw akhirnya tahu siapakah pembuat sensasi itu. Seekor tikus kecil sedang menggigit jari-jemari gw(seperti dibilang sebelumnya, gw mungkin lupa cuci tangan setelah makan). Dengan tanpa ekspresi, gw mengibaskan tangan dan melanjutkan tidur. Begitulah awal ‘persahabatan’ gw dengan hewan peliharaan yang satu ini.

Akhirnya beberapa bulan berlalu. Tibalah masa-masa dimana gw (sangat) terbiasa mendapati tikus kecil(dan teman-temannya) meniti seutas kabel yang tergantung di atas kamar gw seakan akan pemain sirkus profesional atau mendapati mereka sedang asyik mengunyah sebungkus mie instan gw dengan tanpa dosa dan kesadaran bahwa betapa pentingnya sebungkus mie instan utuh bagi seorang anak sma yang sedang ngekos. Sungguh hewan peliharaan yang sangat pengertian.

Hingga datanglah suatu pagi yang cerah. Gw masuk ke kamar mandi dan melihat seekor tikus sedang berenang menyelamatkan diri karena hampir tenggelam di dalam kloset. Sungguh, tidak ada pose tikus yang lebih mengerikan selain sedang dalam keadaan antara hidup dan mati di dalam kloset. Dengan spontan, gw ambil sikat bertangkai panjang dan mencekik leher si tikus dengan sekuat tenaga. Si tikus berteriak-teriak (mengeluarkan bunyi teraneh yang pernah gw dengar dari seekor tikus) hingga akhirnya ia kehilangan kehidupannya. Teman, gw telah menjadi seorang pembunuh. Gw membunuh binatang peliharaan gw sendiri. Lalu dengan tangan berlumur dosa itu, gw masukan jenazah tikus tersebut ke dalam keresek dan membuanya ke tempat sampah. Gugurlah seekor tikus yang sedang bernasib malang dan terpaksa berakhir kehidupannya di tempat pembakaran.

Sayang, ibarat pepatah…gugur satu tumbuh seribu. Bisa ditebak akhir ceritanya, hingga gw pindah kosan, kami tetap bersahabat.

Pemuda Harapan Bangsa (part II)

May 30, 2008

Seperti apa gambaran pemuda harapan bangsa zaman sekarang? Anda ingin tahu? Baiklah, mari kita saksikan kegiatan seorang pemuda (sebenarnya pemudi-tapi sering ada yang meragukan) pada suatu hari. Demi kepentingan yang bersangkutan, sebut saja namanya Cantik(tentu saja bukan nama sebenarnya).

Semoga aktivitas harian Cantik tidak mewakili pemuda bangsa ini pada umumnya.

ini dia…

05.30

Kelopak mata Cantik begitu berat. Padahal, semalam ia sama sekali tidak bergadang. Tempat tidur spring bed palsu(serius, jerami sering nyembul keluar dari dalamnya) menjadi terlihat seperti spring bed king size hotel bintang lima. Dengan masih berbalut mukena akhirnya si Cantik berhasil luluh pada godaan spring bed palsu itu untuk kembali berbaring dengan santainya. Dalam hati menyalahkan syaitan yang konon banyak berkeliaran sehabis shubuh menggoda iman manusia yang senang bermalas-malasan.

06.30

Sehabis memaksakan diri keluar dari jeratan syaitan spring bed palsu, si Cantik mandi dan mulai mengerjakan tugas yang seharusnya dikumpulkan hari ini kepada ketua kelompok yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman kosnya… Tidak perlu khawatir tugasnya tidak selesai, statistik mengatakan si cantik mengerjakan delapan dari tujuh tugas secara deadline.

08.15

Si cantik pergi ke kampus dengan berat hati. Tentu saja karena masih teringat spring bed palsu yang menunggu di kamar kosnya yang berantakan. Selain itu, ia teringat tugasnya yang belum selesai.

09.00

Karena tidak kebagian tempat duduk di belakang, si cantik terpaksa harus duduk di depan. Dengan demikian, ia terpaksa harus memperhatikan pelajaran. Pertama, si cantik duduk di depan sehingga jika ia melamun atau mengobrol sedikit saja pasti ketahuan. Kedua, dosennya charming. Ketiga, si cantik memang sebenarnya ingin dapat ilmu yang bermanfaat dari kedatangannya ke kelas tersebut. Namun, banyak saja godaan yang menghadang. Seperti misalnya, teman wanita di sebelah kiri yang tak henti-henti mencubit pipi si cantik seraya berkata “ih, aku pengen cium kamu” dan teman wanita di sebelah kanan yang tak henti-henti memperagakan jurus-jurus silat. Mau tidak mau si cantik meladeni keduanya…dan kata-kata sang dosen charming alhasil hanya melintas di benaknya seperti angin dan berganti kata-kata “iiih, aku pengen cium kamuuuu”

11.00

Akhirnya kuliah selesai juga dan seperti biasa si cantik langsung melanjutkan perjalanan rutin setelah kuliah ke tempat makan yang tiada lain dan tiada bukan adalah ‘nasi padang’… Di perjalanan, kepada ketua kelompok yang tiada lain dan tiada bukan adalah teman kosnya, si cantik berkata jujur bahwa tugasnya belum selesai sehingga terpaksa menunda mengumpulkannya dan ketua kelompok(yang tiada lain tiada bukan adalah teman kosnya) pun mengiyakan dengan mudahnya(padahal kepada anggota lain bukan main galaknya). Inilah pembelajaran kolusi dan nepotisme kecil-kecilan.

13.00

Si cantik melaksanakan hobinya yang tiada lain tiada bukan adalah : Mencuci. Cucian yang bertumpuk(padahal sehari yang lalu juga mencuci) dicucinya dengan riang gembira. Sementara teman kosnya di kamar yang berbeda juga sedang mencuci dengan tidak kalah riangnya. Statistik mengatakan, si cantik dan teman-teman kosnya lebih bersemangat mencuci daripada mengerjakan tugas kuliah.

17.00

Si cantik baru bangun tidur siang setelah tertidur dengan lelapnya di atas spring bed palsu lebih dari dua jam.

19.00

Si cantik pergi membeli makan malam. Si cantik tidak pernah berpikir melakukan diet(kecuali di akhir bulan). Dan si cantik bukan vegetarian.

21.00

Si cantik pun pergi tidur.

Begitulah kegiatan harian seorang pemuda(ok, pemudi actually) bernama cantik yang sama sekali tidak istimewa. Semoga aktivitas pemuda bangsa yang lain sehari-harinya lebih dari sekadar makan, tidur, dan mencuci.

pemuda harapan bangsa (part I)

May 27, 2008

Tepat seminggu yang lalu, dalam rangka peringatan seratus tahun kebangkitan nasional, di seluruh televisi disiarkan sebuah acara kolosal dan megah langsung dari Gelora Bung Karno.

Gw menyadari betapa acara ini berada pada momen yang kurang pas mengingat kita sedang menghadapi berbagai masalah baik yang bersifat agregat maupun individual, seperti; kenaikan harga bahan bakar, demonstrasi di mana-mana, pertumbuhan ekonomi yang buruk, gizi buruk, naiknya harga nasi warteg-sementara uang saku tidak, dan perlunya restrukturisasi utang kepada teman kos. Namun, gw tetap stand menonton acara ini dengan semangat empat lima bersama teman-teman kosan tercinta. (dan ada satu teman yang semangat menonton karena marching band kampus pacarnya tampil)

Gw udah lama gak liat acara yang bersifat nasional sebesar ini… Mulai dari tari saman sampai parade taruna yang gagah tampil menawan. Makanya gw dkk excited saat menontonnya(sama excited-nya dengan Ibu Ani Yudhoyono yang sesekali tersenyum senang di sela-sela acara). Kita berteriak kagum saat para penari membentuk formasi pulau-pulau, gw berteriak saat muncul rampak gendang plus sisingaan dari kampung kelahiran gw(subang subang!! orang masuk tv dan disebutkan maudy koesnadi), dan teman kosan gw bernostalgia melihat taruna yang ganteng nan gagah(konon mirip mantan pacarnya).

Gw, temen-temen kos gw, taruna-taruna, marching band, para penari saman, anda, kita semua pemuda harapan bangsa. Kira-kira sepuluh tahun lagi usia kita akan sama dengan Ki Hadjar Dewantara saat mendirikan Budi Oetomo bersama kawan-kawannya. ya begitulah….

Tapi, seperti apakah gw yang berteriak histeris saat melihat taruna ganteng berparade sepuluh tahun mendatang???

.insiden.

May 16, 2008

Sekarang gw tau, mengapa menyingkirkan kerikil dari jalan saja adalah amal perbuatan baik yang dicatat dan dibalas kelak di Hari Akhir.

Semua berawal dari sebuah jalan santai di kampus gw tiga minggu yang lalu. Gw yang jarang berolahraga, malas, susah bergerak, tukang tidur, lemas(dan hal-hal semacam itu lainnya) tiba-tiba ikut jalan santai tersebut. Sambil berjalan-jalan dengan semangat gw bernyanyi. Oh, sungguh indahnya dunia di hari Minggu.

Saat mendekati finish(tepatnya di depan sebuah bangunan yang sedang direnovasi di Sektor Lima, saat gw sedang bernyanyi Lagu Rindunya Letto dengan semangad, saat gw sedang berbahagia…tiba-tiba semua berubah sembilan puluh derajat. Kenapa? karena dalam hitungan nol koma sekian detik gw telah terjerembap mencium aspal. Kaki gw tersandung seutas kawan tebal yang tergeletak gitu aja di jalan.

Alhasil, sampai sekarang dagu gw bentuknya berubah jadi gak jelas.

idola cilik

May 3, 2008

entah kenapa, gw suka aja nonton idola cilik. Terserah deh mau dibilang norak, korban kapitalisme, atau tukang eksploitasi anak2.

Lucu aja bisa liat anak kecil punya bakat yang gw gak punya(nyanyi anyway). Dan ada aja di acara ini yang bikin gw ketawa.

Mal Tutup Lebih Cepat

May 3, 2008

Dalam rangka Gerakan Nasional Hemat Energi, wakil presiden Indonesia, Yusuf Kalla, menghibau kepada lembaga pemerintah dan swasta untuk melakukan pemangkasan penggunaan energi, salah satunya adalah dengan menutup mal lebih cepat bagi para pengusaha mal. Dengan demikian, bisa menghemat energi cukup besar(di malam hari konon ada satu mall yang menghabiskan ratusan ribu watt listrik, bisa nerangin satu kecamatan tuh).

Sebagai seorang maller(tukang ke mall maksudnya), gw cukup khwatir jangan-jangan sebelum gw keluar dari mall lampunya keburu mati. Alhasil ntar gw terjebak di dalam mal. Tapi tenang aja, ini hanya khayalan lebay gw saja. Yah, jika pada akhirnya memang akan diterapkan peraturan bahwa mal harus tutup pukul sembilan malam, setidaknya gw bisa ambil hikmahnya. Gw tidak lagi keluyuran malam-malam dan bisa melakukan hal yang lebih produktif, misalnya browsing atau menulis blog.

Kliwir kliwiiiir, udara dingin berhembus dari AC ruang tengah menemani gw yang sedang menatap layar komputer. Gw teringat gemerlapnya lampu-lampu di mal dan dinginnya ruang bioskop. Tiba-tiba, gw juga ingat tagihan listrik..ah ternyata membengkak. Dan AC tetap kliwir kliwiiir…wong adem!

Hotaru’s Light (asal usul ikan kering)

May 3, 2008

Beberapa minggu yang lalu gw beli sebuah komik dengan judul Hotaru’s Light. Kalo gak salah versi dorama dari komik ini juga ada dengan judul Hotaru No Hikari. Hotaru’s Light bisa dibilang komik dewasa(jangan ngeres dulu, maksud gw isi komiknya menceritakan kehidupan orang dewasa). Buat yang bosen dengan tema komik yang hampir seragam, Hotaru’s Light bisa jadi alternatif bacaan.

Sebenernya ide cerita komik ini simpel aja, malah cenderung klise. Ada seorang karyawati bernama Hotaru. Ia berusia hampir tiga puluh tahun, jomblo, selalu berusaha tampil sempurna di kantor, tapi saat sendirian di rumah ia kembali menjelma menjadi dirinya yang asli; berantakan dan acak-acakan. Konflik dimulai saat kepala bagiannya di kantor mengklaim rumah tempat tinggal Hotaru sebagai rumahnya. Usut punya usut, bosnya tersebut adalah anak pemilik rumah tempat Hotaru tinggal. Akhirnya mereka hidup bersama. Hotaru yang pemalas dan berantakan terpaksa berbagi tempat tinggal dengan bosnya yang rapi dan perfeksionis.

Gw baru baca sampai volume tiga. Gak sabar untuk baca lanjutannya. Entah kenapa, gw suka aja komik ini. Ngeliat Hotaru yang malas-malasan di rumah sambil pakai kaus kaki bolong seperti melihat cerminan diri sendiri. Nah, di Jepang para wanita seperti Hotaru itu disebut Ikan Kering. He3, walau gak separah Hotaru, gw rasa gw punya gejala-gejala potensial menjadi ikan kering…

Jika mau mengetahui gejala-gejala ikan kering, silakan baca saja Hotaru’s Light (atau tonton doramanya). Setelah tahu apa saja gejala-gejalanya mungkin bisa diobati sebelum terlambat. Namun, jujur aja…gw cukup senang dengan kehidupan ikan kering karena kadang gw ngerasa lebih menikmati nonton tv di rumah sambil tidur-tiduran dibandingkan mesti datang ke rapat keluarga mahasiswa dengan dandanan formal. Apa jangan-jangan gw makhluk soliter? Cita-cita gw, setelah lulus nanti gw pengen ngekos atau ngontrak rumah sendiri dan sebebas-bebasnya berada di rumah;ngemil di depan tv pakai celana bolong dengan rambut yang belum keramas seminggu.

Sssst,,,setelah baca ini mohon jangan bilang siapa-siapa!!

star wars…ingat ingat lagi!

May 2, 2008

barusan gw nonton star wars episode VI lagi. Mungkin gw udah nonton untuk yang kelima kalinya. Tapi, gw gak pernah bosen. Pokoknya suatu saat gw bakal nulis tentang star wars. Cuman karena sekarang udah malem, gw rasa gw musti tidur dan menundanya…

have a nice dream. may the force be with you.

gokusen

May 2, 2008

Ini salah satu dorama kesukaan gw. Doramanya udah agak jadul, kira-kira rilis di Jepun empat tahun yang lalu. Bercerita tentang seorang gadis bernama Kumiko. Gadis berdarah yakuza(mafia Jepang) tersebut memutuskan menjadi seorang guru matematika alih-alih mewarisi bisnis keluarga yang turun temurun itu. Lulus kuliah, ia pun menjadi guru di sebuah sekolah khusus laki-laki bernama Shiroken Gakuen.

Episode pertama dibuka dengan latihan pidato Kumiko yang berapi-api tentang dunia pendidikan yang ia cintai. Sayangnya, kegiatan mengajar yang ia impikan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang harus dihadapinya. Murid-murid yang harus ia didik adalah siswa ternakal di sekolahnya. Mereka para berandalan, hobi berkelahi dan tak pernah menuruti kata-katanya. Masalah selalu datang silih berganti menimpa Kumiko dan anak didiknya. Namun, Kumiko tak pernah patah semangat. Dengan slogan “Fight Oh!!” ia tetap sabar menghadapi murid-muridnya. Berkat kegigihan dan ketulusan hatinyalah itu, perlahan tapi pasti, murid-muridnya yang berandalan berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bahkan pada akhirnya, para murid sangat menyayangi Kumiko.

Terlepas dari kisah yakuza dan atribut cerita yang sangat fiktif(sehingga ceritanya memiliki tingkat irasionalitas yang tinggi), Gokusen cukup menyentuh hati. Ada beberapa adegan yang bikin gw nangis. Salah satunya pada episode yang bercerita tentang ibu seorang siswa yang berjuang keras agar anaknya tidak putus sekolah(hiks, adegan ini pasti banyak terjadi di dunia nyata). Gara-gara Gokusen pun, gw tertarik menjadi guru.

Nah, jika ada yang memiliki bakat dalam bidang pengajaran, pinter, dan supel…gak ada salahnya kok memilih profesi guru. Profesi guru bukanlah profesi sembarangan, ia penuh rintangan dan tantangan. Profesi guru juga membutuhkan dedikasi yang tinggi. Hanya orang-orang hebat dan profesional yang akan bisa menjadi guru yang baik dan dihormati murid-muridnya. Dalam cerita Gokusen, Kumiko telah membuktikannya.

Oleh karena itu, untuk para guru di manapun engkau berada, Fight Oh!!!

nobita dan pak guru

May 2, 2008

Jika gw nggak denger cerita bokap yang pagi tadi upacara Hardiknas di alun-alun kota, mungkin gw gak bakal ngeuh sama sekali tentang peringatan Hardiknas tahun ini(yang emang terasa kurang gregetnya). Apalagi hari ini gw bolos kuliah dan sepanjang hari guling-guling di kasur gak karuan. Gw baru bangun dari kasur saat adik gw yang Senin besok bakal ujian nasional SMP maksa gw—zaman sekarang adik lebih galak daripada kakak—mengajarkan matematika seakan-akan kakaknya jago matematika sedunia(padahal gw lulus SMA dengan nilai matematika pas-pasan).

Yah, bakat orang beda-beda sih. Mungkin adik gw(dan kakaknya) tidak berbakat dalam bidang matematika(dan juga bidang yang lain??). Namun, minimal adik gw harus ngerti dong hal-hal yang bersifat basic. Yang gw sesalkan, kok justru hal-hal basic tersebut belum dikuasai pada saat H-3 ujian. Jadi, selama ini adik gw kemana aja? Setau gw sih doi rajin pergi sekolah. Belajarnya juga rajin. Lalu dimana letak kesalahannya?

Gw jadi ingat cerita Doraemon. Dalam cerita Doraemon sering diceritakan Nobita yang ketakutan sewaktu-waktu Pak Guru akan datang ke rumah, mengunjungi ibunya, dan menceritakan perkembangan belajar Nobita(yang ternyata tidak kunjung berkembang). Dengan demikian, proses pembelajaran terpantau dengan baik. Guru dan orang tua sama-sama tau sampai dimana batas kemampuan siswa.

Gw kurang tahu, apakah sampai sekarang tradisi kunjungan guru tersebut masih ada di Jepang atau tidak. Yang jelas, di Jepang profesi guru sangat dihargai. Paska bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, gurulah yang pertama kali ditanyakan dan dicari oleh kaisar Jepang. Kaisar menanyakan jumlah guru yang tersisa, bukan malah harta benda atau senjata.

Pada tahun 1945 itulah Indonesia dan Jepang sama-sama memulai kehidupan baru. Jepang berusaha memulihkan diri paska keterpurukan yang diakibatkan kekalahannya dalam Perang Dunia II dan Indonesia mulai membangun negeri setelah berhasil mengumandangkan proklamasi. Setelah enam dasawarsa, hasilnya jauh berbeda. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kesejahteraan sosial, Indonesia berada jauh di belakang Jepang. Padahal, dua negara tersebut bertolak dari titik yang sama. Yang membedakan setelahnya adalah concern negara masing-masing terhadap dunia pendidikan.

Dunia pendidikan Indonesia punya Ki Hajar Dewantara, punya Hardiknas, punya Wajib Belajar Sembilan Tahun, punya anggaran 20% dari APBN, punya gedung-gedung sekolah yang mentereng, punya kurikulum yang terus diupgrade, dan punya segala jenis program pendidikan yang baik. Sementara, dunia pendidikan Jepang punya guru-guru yang berdedikasi tinggi dan para siswa yang menghormati guru-gurunya, seperti Nobita yang tetap menghormati Pak guru yang galak, yang berkeliling komplek mengingatkan satu-satu muridnya untuk belajar.

Untuk seluruh guru dan pelajar Indonesia, Selamat Hari Pendidikan Nasional !!!